Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Profil Bambang Hartono: Raja Kretek Jadi Orang Terkaya Dunia Versi Forbes
Michael Bambang Hartono (djarumfoundation.org)
  • Michael Bambang Hartono, salah satu orang terkaya di Indonesia, wafat pada usia 86 tahun di Singapura, meninggalkan warisan besar di sektor perbankan dan industri tembakau.
  • Di bawah kepemimpinannya, Grup Djarum berkembang pesat dari bisnis kretek ke perbankan melalui investasi strategis di BCA serta ekspansi ke e-commerce, properti, elektronik, dan kendaraan listrik.
  • Forbes menempatkan Bambang Hartono di peringkat 149 daftar miliarder dunia 2026 dengan kekayaan mencapai 18,9 miliar dolar AS berkat portofolio bisnisnya yang luas di berbagai sektor.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Salah satu orang terkaya di Indonesia, Michael Bambang Hartono, wafat pada Kamis (19/3/2026). Kabar kepergian pria yang akrab disapa Bambang Hartono itu dikonfirmasi terjadi pada pukul 13.15 waktu Singapura.

Wafatnya Bambang menandai akhir dari era kepemimpinan salah satu taipan yang paling konsisten menduduki puncak daftar miliarder di tanah air selama bertahun-tahun. Di usianya yang menginjak 86 tahun, Bambang Hartono, meninggalkan warisan bisnis raksasa yang berpusat pada sektor perbankan dan industri tembakau.

Pengusaha berkewarganegaraan Indonesia itu berdomisili di Kudus, Jawa Tengah, kota yang menjadi basis utama gurita bisnisnya. Almarhum memiliki seorang istri dan empat orang anak.

1. Gurita bisnis dari kretek hingga perbankan

Menara BCA. (Dok. BCA)

Dilansir Forbes, jejak kesuksesan Bambang Hartono dan keluarga bermula dari industri tembakau. Mereka berhasil membangun salah satu pabrikan rokok kretek terbesar di tanah air yang masih eksis hingga saat ini.

Namun, sumber kekayaan Bambang bersama saudaranya, Robert Budi Hartono, tidak berhenti di situ. Sebagian besar pundi-pundi kekayaan mereka justru lahir dari keputusan strategis saat berinvestasi di sektor perbankan, khususnya di Bank Central Asia (BCA).

Langkah besar itu diambil setelah keluarga Salim kehilangan kendali atas bank tersebut akibat hantaman krisis ekonomi Asia pada medio 1997-1998 silam. Sejak saat itu, investasi di BCA menjadi mesin utama yang menempatkan kakak-beradik itu sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia, bahkan dunia itu.

2. Ekspansi ke ekonomi digital dan mobil listrik

Ilustrasi aplikasi Blibli (IDN Times/Doni Hermawan)

Seiring perkembangan zaman, di bawah kepemimpinan Bambang, Grup Djarum terus melebarkan sayapnya ke berbagai sektor industri. Salah satu pencapaian besarnya terjadi pada 2022, ketika mereka membawa Global Digital Niaga, perusahaan induk e-commerce Blibli, melantai di bursa melalui aksi IPO terbesar kedua di Indonesia kala itu. Langkah itu berhasil mengamankan dana segar hingga 510 juta dolar AS.

Tak hanya di dunia digital dan properti premium di Jakarta, pengaruh keluarga Hartono juga menyentuh industri manufaktur lewat merek elektronik Polytron. Menariknya, pada 2025 lalu, mereka mulai menyeriusi pasar kendaraan listrik tanah air dengan meluncurkan dua model mobil listrik perdana.

3. Masuk jajaran orang terkaya di dunia

Pemilik Grup Djarum, Michael Bambang Hartono, meninggal dunia pada Kamis (19/3/2026) (Istimewa)

Forbes mengumumkan daftar 200 nama miliarder terkaya di dunia per 1 Maret 2026. Nama-nama seperti Elon Musk, Larry Page, Sergey Brin, Jeff Bezos, hingga Mark Zuckerberg pun masih setia ada di dalam daftar puncak tersebut.

Berdasarkan daftar 200 miliarder terkaya dunia yang baru dirilis Forbes, terdapat empat orang dari Indonesia, termasuk Michael Bambang Hartono. Michael "Bambang" Hartono (86) ada di peringkat 149 dalam daftar 200 orang terkaya dunia versi Forbes dengan kekayaan mencapai 18,9 miliar dolar AS atau senilai Rp319,05 triliun.

Sama seperti sang kakak, Robert Budi Hartono, Michael mengelola beberapa bisnis yang membuatnya kaya, yaitu perbankan (kepemilikan saham di BCA), pertambangan, teknologi, perusahaan rokok, dan lain sebagainya.

Editorial Team