Mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan (IDN Times/Aryodamar)
Karier Dahlan dimulai sebagai jurnalis di sebuah surat kabar kecil di Samarinda pada 1975. Setahun kemudian, ia bergabung dengan Majalah Tempo dan bekerja sebagai hingga 1982. Pengalaman jurnalistik tersebut menjadi fondasi penting dalam perjalanan profesionalnya.
Pada 1982, Dahlan pindah ke Surabaya untuk memimpin Harian Umum Jawa Pos setelah surat kabar tersebut dibeli oleh PT Grafiti Pers. Di bawah kepemimpinannya selama 20 tahun, oplah Jawa Pos melonjak drastis, dari sekitar 6.000 eksemplar menjadi 300 ribu eksemplar hanya dalam kurun lima tahun.
Tak berhenti di situ, Dahlan membangun Jawa Pos News Network (JPNN), jaringan media yang menaungi lebih dari 150 surat kabar, tabloid, dan majalah di berbagai daerah. JPNN juga mengelola sekitar 40 jaringan percetakan yang tersebar di seluruh Indonesia, menjadikannya salah satu kelompok media terbesar di Tanah Air.
Memasuki 2009, Dahlan memperluas kiprahnya ke sektor industri komunikasi dan energi. Ia terlibat dalam pembangunan sambungan kabel laut serat optik sepanjang 4.300 kilometer yang menghubungkan Surabaya dan Hong Kong melalui PT Fangbian Iskan Corporindo (FIC).
Selain itu, ia mendirikan perusahaan listrik swasta seperti PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Elektrik Power di Surabaya, dilatarbelakangi keprihatinannya terhadap persoalan pemadaman listrik nasional.
Pada 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menunjuk Dahlan Iskan sebagai Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Jabatan tersebut diembannya hingga 2011.
Selama memimpin PLN, Dahlan mengupayakan penghapusan pemadaman listrik bergilir atau byar pet di berbagai daerah. Ia juga mencabut kebijakan pembatasan tarif listrik industri (capping) guna menciptakan iklim investasi yang lebih adil dan kondusif. Saat menjabat Dirut PLN, pengelolaan Jawa Pos diserahkan kepada putranya, Azrul Ananda, sementara Dahlan tetap berada di jajaran komisaris.
Pada 17 Oktober 2011, Dahlan diangkat menjadi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), menggantikan Mustafa Abubakar yang saat itu tengah menjalani perawatan kesehatan. Selama menjabat, Dahlan mendorong restrukturisasi aset BUMN, penyederhanaan jumlah perusahaan pelat merah, serta efisiensi kinerja. Ia juga dikenal dengan gagasannya mengenai pengembangan mobil listrik sebagai alternatif kendaraan ramah lingkungan.