PT Pupuk Indonesia (Persero) memperkuat pengawasan distribusi pupuk subsidi melalui pengoperasian Command Center. (IDN Times/Triyan).
Senior Vice President Distribusi Pupuk Indonesia, Veronika Trisna Sukmawati menjelaskan, Command Center mengintegrasikan seluruh sistem digital distribusi dalam satu dashboard monitoring. Sistem ini juga mendukung implementasi Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 yang menempatkan Pupuk Indonesia sebagai penanggung jawab utama penyaluran pupuk hingga tingkat Penerima Pupuk pada Titik Serah (PPTS).
Menurut Veronika, sistem tersebut memungkinkan perusahaan memantau produktivitas pabrik, posisi stok, hingga pergerakan kapal dan truk distribusi berbasis GPS secara langsung. Dengan begitu, potensi hambatan distribusi maupun penyimpangan dapat dideteksi lebih cepat.
Selain itu, perusahaan juga mengandalkan Distribution Planning and Control System (DPCS) yang dilengkapi indikator warna sebagai early warning system untuk mendeteksi potensi kekurangan pasokan di suatu wilayah.
“Ketika terdapat peningkatan kebutuhan di suatu wilayah, kami dapat segera melakukan penyesuaian pasokan pupuk agar distribusi tetap berjalan lancar dan kebutuhan petani selalu terpenuhi,” kata Veronika.
Hingga 19 Mei 2026, stok pupuk nasional tercatat mencapai 1,17 juta ton yang terdiri dari berbagai jenis pupuk. Perseroan memastikan ketersediaan stok tetap aman melalui pemantauan terintegrasi dari proses produksi hingga distribusi.
Tak hanya itu, pengawasan distribusi juga diperkuat lewat aplikasi iPubers yang digunakan petani untuk menebus pupuk subsidi hanya dengan menggunakan KTP. Senior Vice President Digitalisasi & Data Science Pupuk Indonesia, Yetty Endarwati mengatakan, aplikasi tersebut kini menjadi sumber data utama dalam pemantauan distribusi pupuk subsidi secara real time.
Saat ini, rata-rata 2,5 juta transaksi penebusan pupuk subsidi dimonitor setiap bulan melalui integrasi iPubers dengan Command Center. Data transaksi mencakup identitas penerima, jumlah pupuk, waktu transaksi, hingga lokasi penebusan sehingga distribusi dapat ditelusuri secara lebih akuntabel.