Jakarta, IDN Times - Penetapan Thomas Djiwandono alias Tommy sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) menuai kritik. Independensi Bank Indonesia (BI) menjadi pertaruhan publik melihat Tommy merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto.
Kepada awak media, Tommy mengatakan, telah menyadari banyaknya kritik yang dilontarkan kepadanya selama menjalani proses untuk menjadi Deputi Gubernur BI.
“Saya selama 10 hari tuh, berapa ya, 9 hari saya di luar negeri, waktu itu di London, ke Davos ikut Pak Presiden, dan sebagainya. Jadi, wah waktu saya baca pemberitaan pas saya pergi tuh, waduh, ini lah ya. Cuma jadi waktu saya kembali untungnya prosesnya cukup cepat. Dan saya bisa menjelaskan, sebenernya di fit and proper-nya saya bisa menjelaskan substansinya,” kata Tommy di kantor Kemenkeu, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Dia menyadari statusnya sebagai keponakan Prabowo menjadi sorotan publik. Menurutnya, status itu bukanlah hal yang bisa dihindari. Begitu juga dengan rekam jejaknya sebagai politikus Partai Gerindra.
“Kalau soal bahwa latar belakang saya sebagai dulu politisi atau bahkan kedekatan keluarga ya itu, itu fakta. Ya, itu saya gak bisa, ya itu fakta. Tapi kan, tolong dilihat rekam jejak yang sudah saya lakukan sebelumnya,” tutur Tommy.
Namun, dia memastikan, segala proses yang dilalui untuk menjadi Deputi Gubernur BI dijalani sesuai ketentuan yang ada.
“Saya ditunjuk sebagai Deputi Gubernur, nah, itu dilakukan juga melalui proses dan mekanisme yang sudah ada. Gak ada satu hal yang di dilewatin, dilanggar, apalagi dibelok-belokin,” ujar Tommy.
