Berdasarkan survei CME FedWatch Tool memperlihatkan probabilitas 100 persen suku bunga acuan the Fed akan dipangkas di bulan Mei, dari sebelumnya sekitar 96 persen. Kemudian tingkat imbal hasil obligasi AS terutama tenor 10 tahun juga menurun ke kisaran 3,8 persen dari sebelumnya 3,9 persen.
"Ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar bereskpektasi bahwa Tingkat suku bunga bakal turun ke depannya," ucap Ariston.
Dengan demikian, apabila data-data ekonomi AS terbaru masih terus mencatatkan hasil yang bagus, ini bisa menurunkan ekspektasi pasar mengenai kapan suku bunga acuan AS ini akan dipangkas, maka dolar AS bisa bertahan menguat. Bukan hanya itu, Ariston pun memperkirakan Bank Indonesia masih akan menahan suku bunga acuannya di level 6 persen.
"Kebijakan moneter terbarunya yang kemungkinan tidak ada perubahan karena risiko ketidakpastian global masih tinggi dan the Fed masih belum yakin akan memangkas suku bunganya, Sementara dari inflasi dalam negri masih terkendali. Jadi mungkin hasil BI ini tidak terlalu mempengaruhi pergerakan rupiah dollar AS," tuturnya.