Analis PT Sinarmas Futures, Ariston Tjendra berpendapat bahwa rupiah masih berpeluang menguat hari ini, seiring menguatnya sentimen bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (the Fed) yang kemungkinan tidak akan menaikan suku bunga acuannya setinggi tahun lalu.
Dia menjelaskan, petinggi the Fed, Raphael Bostic berpendapat bahwa the Fed akan menaikan suku bunga acuannya 25 atau 50 basis poin pada rapat bulan Februari nanti. Tahun lalu, the Fed menaikan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin sebanyak 4 kali dan di Desember turun menjadi 50 basis poin.
"Sentimen ini mendorong pelemahan dolar AS terhadap nilai tukar lainnya," sebutnya.
Selain itu kebijakan China yang lebih longgar dalam menghadapi penularan COVID-19 di negaranya juga memberikan sentimen positif ke aset berisiko di pasar keuangan. Kata dia, China lebih membuka ekonominya dan tidak melakukan karantina ketat.
"Ini membantu meningkatkan permintaan dan suplai sehingga membantu pertumbuhan ekonomi global," ujarnya.