Jakarta, IDN Times - Mata uang Garuda hingga penutupan perdagangan, Selasa (12/5/2026) ditutup melemah ke Rp17.524 per dolar AS.
Berdasarkan Bloomberg, rupiah melemah hingga 110 poin atau 0,63 persen dibandingkan penutupan kemarin.

Jakarta, IDN Times - Mata uang Garuda hingga penutupan perdagangan, Selasa (12/5/2026) ditutup melemah ke Rp17.524 per dolar AS.
Berdasarkan Bloomberg, rupiah melemah hingga 110 poin atau 0,63 persen dibandingkan penutupan kemarin.
Mayoritas mata uang di Asia bergerak melemah, namun rupiah tercatat melemah paling dalam, rinciannya:
Bath Thailand melemah 0,13 persen
Ringgit Malaysia melemah 0,01 persen
Rupee India melemah 0,40 persen
Pesso Filipina melemah 0,35 persen
Won Korea melemah 17,41 persen
Dolar Taiwan melemah 0,09 persen
Yen Jepang melemah 0,33 persen
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah terjadi sejalan dengan depresiasi mata uang regional lainnya.
Menurut Lukman, salah satu faktor utama yang menekan rupiah adalah tingginya harga minyak dunia yang bertahan dalam waktu cukup lama. Kondisi tersebut dinilai perlahan menggerus nilai tukar rupiah, terutama terhadap dolar AS.
"Kalau dilihat, pelemahan rupiah juga diikuti oleh pelemahan mata uang regional yang tidak kalah besar. Faktor utama adalah harga minyak dunia yang masih bertahan tinggi, yang secara perlahan akan terus menggerus nilai rupiah,” ujar Lukman.
Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga turut membebani pergerakan rupiah. Investor disebut cenderung mengambil posisi risk off menjelang pengumuman MSCI yang dinilai berpotensi mempengaruhi arus modal asing di pasar keuangan domestik.
Pengumuman hasil rebalancing MSCI Indonesia (May 2026 Index Review) dijadwalkan pada 12 Mei 2026 (waktu Eropa/AS), dan efektif berlaku pada penutupan pasar 29 Mei 2026.
Dia menambahkan, apabila hasil evaluasi MSCI lebih mengecewakan dari ekspektasi pasar, maka terdapat risiko arus modal keluar (capital outflow) yang lebih besar dari investor asing. Namun demikian, Lukman menilai pasar saham domestik kemungkinan sudah mengantisipasi skenario terburuk terkait pengumuman MSCI tersebut.
“Apabila MSCI lebih mengecewakan tentunya dikhawatirkan outflow akan lebih besar. Namun melihat perkembangan terbaru, IHSG seharusnya sudah priced in worst case MSCI,” tuturnya.