Pengamat pasar keuangan, Ariston Tjendra menyebut, kemungkinan rupiah melemah terhadap dolar AS masih ada, dan itu disebabkan oleh beberapa faktor.
Pertama, perbaikan data ekonomi AS, khususnya penjualan ritel periode Desember yang menunjukkan kenaikan yang lebih baik dari bulan sebelumnya.
“Membaiknya data tersebut memperkuat sinyal the Fed tidak akan terburu-buru memangkas suku bunga acuannya,” sebut Ariston.
Selain itu, tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap kuat, dengan yield tenor 10 tahun yang meningkat. Hal itu menunjukkan bahwa pasar masih percaya pada kekuatan ekonomi AS.
“Selain karena menurunnya ekspektasi pemangkasan suku bunga the Fed, ketegangan geopolitik yang masih berlangsung terutama di Timur Tengah, juga masih menjadi pemicu pelaku pasar masih ke aset dolar AS sebagai aset aman” tambahnya.