Sementara itu, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyoroti perang telah memicu krisis energi dan ancaman serius inflasi global, di mana harga barang dan jasa mengalami kenaikan terus-menerus, yang menurunkan daya beli masyarakat.
"Bagi Indonesia, kendati memilih menahan tak mengerek harga bahan bakar minyak (BBM), tak berarti tidak ada efek sama sekali. Kondisi fiskal yang sudah rentan bahkan sebelum pecah perang, sekali lagi menghadapi tantangan besar," ujar Ibrahim.
Pemerintah mengklaim mampu menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, meskipun harga minyak mentah dunia telah menembus asumsi makro di atas 100 dolar AS per barel.
Strategi ini dijalankan tanpa perlu menguras cadangan dana pemerintah yang disebut Saldo Anggaran Lebih (SAL), yaitu akumulasi sisa anggaran dari tahun-tahun sebelumnya yang dapat digunakan sebagai bantalan darurat jika terjadi kondisi ekonomi yang tidak terduga.