Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi rupiah menguat (IDN Times/Aditya Pratama)
ilustrasi rupiah menguat (IDN Times/Aditya Pratama)

Intinya sih...

  • Pasar menanti keputusan The Fed dan isu independensi bank sentral.

  • Ketegangan dagang dan geopolitik bikin pasar tetap siaga.

  • Rupiah berpotensi melemah pada perdagangan Rabu.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (27/1/2026). Rupiah ditutup di level Rp16.768 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 14 poin dari penutupan sebelumnya di Rp16.782 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat melemah sebelum akhirnya berbalik menguat di akhir sesi.

1. Pasar menanti keputusan The Fed dan isu independensi bank sentral

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan perhatian pasar global tertuju pada pertemuan kebijakan dua hari Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan berakhir pada Rabu waktu setempat.

"Pasar secara luas memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tetap stabil setelah tiga kali pemotongan berturut-turut dalam pertemuan sebelumnya," ujarnya.

Selain arah kebijakan moneter, perselisihan antara Presiden AS Donald Trump dan Ketua The Fed Jerome Powell juga menjadi sorotan. Ketegangan tersebut memunculkan kembali kekhawatiran pasar terkait independensi bank sentral AS dari tekanan politik.

Tekanan tambahan datang dari risiko penutupan pemerintahan AS (government shutdown). Kekhawatiran mencuat setelah senator dari Partai Demokrat berjanji memblokir rancangan undang-undang pendanaan besar, menyusul penembakan yang terjadi di Minneapolis.

"Pasar prediksi Polymarket menunjukkan peluang penutupan melonjak tajam dari sekitar 8 persen pada hari Jumat menjadi hampir 78 persen pada hari Senin," ujarnya.

2. Ketegangan dagang dan geopolitik bikin pasar tetap siaga

Sentimen global juga dipengaruhi perkembangan geopolitik dan perdagangan. Ibrahim menjelaskan, Trump sempat menarik kembali ancaman tarif terhadap sejumlah negara Eropa setelah AS menguasai Greenland, yang memperkuat posisi strategisnya di kawasan Arktik.

Namun, ketegangan dagang kembali meningkat setelah Trump mengancam akan memberlakukan tarif perdagangan terhadap sejumlah sekutu AS, terutama Kanada. Trump menolak potensi kerja sama dagang Kanada dengan China dan mengancam mengenakan tarif hingga 100 persen terhadap Ottawa.

Pada Senin malam, Trump juga menyatakan akan menaikkan tarif perdagangan terhadap barang-barang Korea Selatan menjadi 25 persen, dengan alasan Seoul menunda penerapan kesepakatan dagang terbaru.

"Pasar tetap waspada terhadap langkah-langkah lebih lanjut dari Trump," tutur Ibrahim.

Di sisi lain, meningkatnya ketegangan geopolitik di Iran dan kawasan Timur Tengah, seiring kedatangan kapal-kapal militer AS ke wilayah tersebut, turut menambah kehati-hatian pelaku pasar global.

3. Rupiah berpotensi melemah pada perdagangan Rabu

Ibrahim menambahkan, pada perdagangan sore ini rupiah ditutup menguat 14 poin, setelah sebelumnya sempat tertekan hingga 20 poin, di level Rp16.768 per dolar AS.

Untuk perdagangan Rabu (28/1/2026), dia memperkirakan pergerakan rupiah akan tetap fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam kisaran Rp16.760–Rp16.790 per dolar AS.

Secara year to date (ytd) atau sejak awal tahun, rupiah masih tercatat melemah 0,53 persen. Sementara dalam 52 minggu terakhir, pergerakan rupiah berada di rentang Rp16.079-Rp17.224 per dolar AS.

Editorial Team