Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan pelemahan dolar AS dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap defisit fiskal AS. Hal ini menyusul disahkannya secara prosedural RUU “One Big Beautiful Bill” oleh Senat AS.
RUU tersebut mencakup pemangkasan besar-besaran pajak yang dibiayai dengan pemotongan program Medicaid dan subsidi energi hijau. RUU itu dinilai berpotensi memperlebar defisit fiskal AS hingga 3,8 triliun dolar AS.
"Oleh karena itu investor khawatir bahwa pemotongan pajak yang agresif, yang dipasangkan dengan pengurangan belanja pemerintah, dapat mengikis disiplin fiskal dan memicu inflasi jangka panjang," ujarnya.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali menyampaikan kritik terhadap Jepang terkait praktik impor beras. Dia bahkan mengisyaratkan potensi penghentian pembicaraan dagang dengan Tokyo.
Secara terpisah, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan kemungkinan pemberlakuan tarif tambahan untuk negara-negara mitra dagang, termasuk Jepang dan India, masing-masing lebih dari 20 persen.