Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti. (Dok/Istimewa).
Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai tekanan terhadap rupiah terjadi karena kombinasi faktor global dan domestik. Meski demikian, BI tetap aktif di pasar untuk mengantisipasi fluktuasi nilai tukar.
Dari sisi global, rupiah terdampak konflik di Timur Tengah yang terus berlangsung dan menimbulkan ketegangan, mendorong kenaikan harga minyak serta meningkatnya ketidakpastian pasar internasional.
“Sedangkan secara domestik, meningkatnya kebutuhan dolar secara musiman, seperti pembayaran utang luar negeri, dividen, dan ibadah haji—menyebabkan permintaan dolar di pasar lokal naik,” ucap Destry.
BI akan terus berkomitmen berada di pasar melalui smart intervention di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF). Selain itu, semua instrumen operasi moneter akan dioptimalkan untuk meredam tekanan terhadap rupiah.
Destry menambahkan, kepercayaan investor asing terhadap aset portofolio Indonesia terus membaik, tercermin dari masuknya inflow ke pasar surat berharga negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia sebesar Rp 61,6 triliun sepanjang April 2026.