Jakarta, IDN Times - Harga produk impor, terutama bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, diperkirakan akan segera mengalami kenaikan menyusul melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini menembus level Rp17.500-an pada pertengahan Mei 2026.
Pakar ekonomi dan bisnis Universitas Hasanuddin, Profesor Hamid Paddu, menilai kondisi tersebut tidak terelakkan karena Indonesia merupakan negara importir minyak dengan ketergantungan impor mencapai lebih dari 50 persen. Saat ini, produksi minyak domestik hanya mencapai 650 ribu barel per hari, sementara kebutuhan masyarakat berada di angka 1,6 juta barel per hari.
"Nah, impor tentu dibeli dengan nilai mata uang, valuta asing, dalam hal ini dolar AS. Makanya, nilai tukar sangat memengaruhi harga BBM," kata Hamid, dikutip Jumat (15/5/2026).
