Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PAN, Primus Yustisio, menilai pelemahan nilai tukar rupiah saat ini merupakan anomali di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih berada di kisaran 5,61 persen.
Menurutnya, meski pertumbuhan ekonomi nasional relatif solid, nilai tukar rupiah justru terus tertekan hingga menyentuh sekitar Rp17.600 per dolar Amerika Serikat, yang disebutnya sebagai salah satu level terlemah sepanjang sejarah.
“Pertumbuhan ekonomi kita 5,61 persen, tetapi nilai tukar rupiah justru melemah tajam dan berada di level terendah terhadap dolar,” kata Primus.
Selain terhadap dolar AS, Primus juga menyoroti pelemahan rupiah terhadap sejumlah mata uang utama lainnya, seperti dolar Singapura, dolar Australia, ringgit Malaysia, euro, hingga dolar Hong Kong. Ia membandingkan nilai tukar rupiah terhadap euro pada awal 2006 yang masih berada di kisaran Rp7.000, sementara saat ini telah mendekati Rp19.000 hingga Rp20.000 per euro. Dalam pandangannya, kondisi tersebut turut memunculkan pertanyaan mengenai tingkat kepercayaan publik terhadap Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
“Apa yang terjadi saat ini menurut saya pribadi, Bank Indonesia sudah kehilangan trust dan kredibilitasnya,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Primus juga melontarkan pandangan agar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mempertimbangkan langkah pengunduran diri apabila dinilai tidak lagi mampu menjalankan tugas secara optimal.
“Pak Perry yang saya hormati, dalam konteks tanggung jawab seorang pemimpin, mungkin sudah saatnya mempertimbangkan untuk mengundurkan diri,” tegasnya.
Meski demikian, Primus menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukan dimaksudkan sebagai bentuk penghinaan, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab moral, yang menurutnya juga lazim dilakukan di sejumlah negara seperti Jepang dan Korea Selatan.