Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rupiah Tembus Rp17.661, DPR Sindir Klaim Bank Indonesia soal Stabilitas
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo rapat dengan Komisi XI. (Dok/Istimewa).
  • Rupiah melemah hingga Rp17.661 per dolar AS, memicu kritik DPR terhadap klaim Bank Indonesia yang menyebut stabilitas nilai tukar masih terjaga.
  • DPR menilai pelemahan rupiah dipengaruhi faktor domestik seperti defisit transaksi berjalan, arus modal keluar, dan menurunnya kepercayaan investor.
  • Anggota Komisi XI meminta Gubernur BI mempertimbangkan mundur karena dianggap gagal menjaga kepercayaan publik di tengah depresiasi rupiah meski ekonomi tumbuh 5,61 persen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Komisi XI DPR RI menyoroti pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus berlanjut hingga menyentuh Rp17.661 per dolar S pada Senin (18/5/2026). Dalam rapat kerja bersama Bank Indonesia (BI), sejumlah anggota dewan mempertanyakan klaim BI yang menyebut stabilitas rupiah masih terjaga di tengah tekanan pasar yang semakin kuat.

Anggota Komisi XI DPR RI, Harris Turino, mengatakan pelemahan rupiah saat ini sudah menimbulkan keresahan di masyarakat. Bahkan, muncul candaan di publik bahwa jika kurs menyentuh Rp17.845 per dolar AS maka akan menyerupai tanggal kemerdekaan Indonesia, yakni 17-8-45.

“Sekarang kurs sudah Rp17.600. Bahkan muncul ejekan kalau Rp17.845 berarti Indonesia merdeka katanya. Tapi di sisi lain BI masih menyebut rupiah relatif stabil dibandingkan negara lain,” ujar Harris dalam rapat di Kompleks DPR RI, Senin (18/5/2026).

1. Berbagai instrumen sudah dikeluarkan BI tapi rupiah terus melemah

ilustrasi APBN (IDN Times/Aditya Pratama)

Menurut Harris, berbagai instrumen moneter sudah dikeluarkan BI untuk menahan tekanan rupiah. Mulai dari intervensi pasar yang membuat cadangan devisa turun, kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pembelian surat berharga negara (SBN), hingga pengetatan likuiditas dolar AS. Namun demikian, langkah tersebut dinilai belum mampu menghentikan depresiasi rupiah.

“Semua instrumen moneter BI sudah dilakukan, tapi kenapa rupiah tetap mengalami depresiasi? Tekanan global memang besar, tetapi harus diakui ada persoalan serius di domestik,” katanya.

2. Persoalan domestik mencakup fiskal, transkasi berjalan hingga derasnya aliran modal asing

Ilustrasi APBN. (IDN Times/Aditya Pratama)

Harris menilai, persoalan domestik tersebut mencakup kondisi fiskal, defisit transaksi berjalan atau current account deficit, derasnya arus modal keluar (capital outflow), hingga menurunnya kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.

Ia juga mengingatkan bahwa pergerakan rupiah kerap menjadi indikator terhadap kondisi fundamental ekonomi nasional. Meski depresiasi saat ini belum sedalam krisis 1998, Harris meminta BI tetap waspada menjaga stabilitas nilai tukar.

“Bagaimanapun juga ini tanggung jawab BI untuk menjaga stabilitas rupiah,” ujarnya.

3. Komisi XI minta Gubernur BI pertimbangkan untuk mengundurkan diri karena rupiah terus melemah

Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)

Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PAN, Primus Yustisio, menilai pelemahan nilai tukar rupiah saat ini merupakan anomali di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih berada di kisaran 5,61 persen.

Menurutnya, meski pertumbuhan ekonomi nasional relatif solid, nilai tukar rupiah justru terus tertekan hingga menyentuh sekitar Rp17.600 per dolar Amerika Serikat, yang disebutnya sebagai salah satu level terlemah sepanjang sejarah.

“Pertumbuhan ekonomi kita 5,61 persen, tetapi nilai tukar rupiah justru melemah tajam dan berada di level terendah terhadap dolar,” kata Primus.

Selain terhadap dolar AS, Primus juga menyoroti pelemahan rupiah terhadap sejumlah mata uang utama lainnya, seperti dolar Singapura, dolar Australia, ringgit Malaysia, euro, hingga dolar Hong Kong. Ia membandingkan nilai tukar rupiah terhadap euro pada awal 2006 yang masih berada di kisaran Rp7.000, sementara saat ini telah mendekati Rp19.000 hingga Rp20.000 per euro. Dalam pandangannya, kondisi tersebut turut memunculkan pertanyaan mengenai tingkat kepercayaan publik terhadap Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

“Apa yang terjadi saat ini menurut saya pribadi, Bank Indonesia sudah kehilangan trust dan kredibilitasnya,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Primus juga melontarkan pandangan agar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mempertimbangkan langkah pengunduran diri apabila dinilai tidak lagi mampu menjalankan tugas secara optimal.

“Pak Perry yang saya hormati, dalam konteks tanggung jawab seorang pemimpin, mungkin sudah saatnya mempertimbangkan untuk mengundurkan diri,” tegasnya.

Meski demikian, Primus menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukan dimaksudkan sebagai bentuk penghinaan, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab moral, yang menurutnya juga lazim dilakukan di sejumlah negara seperti Jepang dan Korea Selatan.

Editorial Team