Menurut analis pasar keuangan, Ibrahim Assuaibi pergerakan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang dolar AS didorong oleh sentimen pelaku pasar terhadap isu pergantian Ketua Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell.
“Pasar saat ini menunggu pilihan Presiden AS Donald Trump untuk Ketua Fed berikutnya yang menggantikan Jerome Powell. Ketua The Fed yang lebih lunak akan meningkatkan spekulasi tentang penurunan suku bunga lebih lanjut tahun ini,” tutur Ibrahim dalam keterangannya.
Di sisi lain, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) mendukung keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di level 4,75 persen. Hal itu menurut Ibrahim mendorong penguatan rupiah.
“IMF juga menyoroti arah kebijakan moneter BI yang dinilai sudah tepat. BI tercatat telah menurunkan suku bunga kebijakan sebesar 25 basis poin sebanyak enam kali sejak siklus pemangkasan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dimulai pada September 2024 hingga September 2025,“ ujar Ibrahim.