Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Karyawati menghitung uang rupiah dan dolar AS di salah satu bank di Jakarta, Kamis (10/9/2020). ANTARA FOTO/Reno Esnir
Karyawati menghitung uang rupiah dan dolar AS di salah satu bank di Jakarta, Kamis (10/9/2020). ANTARA FOTO/Reno Esnir

Intinya sih...

  • Nilai tukar rupiah menguat berdasarkan kurs tengah BI, mencapai Rp16.838 per dolar AS.

  • Sentimen pergantian Ketua The Fed, Jerome Powell, memicu pelemahan dolar AS menurut analis pasar keuangan Ibrahim Assuaibi.

  • Rupiah diprediksi akan melemah kembali pekan depan meskipun IMF mendukung kebijakan moneter Bank Indonesia.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah menguat terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat, (23/1/2026). Mengutip Bloomberg, kurs rupiah ditutup menguat 76 poin atau 0,45 persen ke Rp16.820 per dolar AS sore ini. Pagi tadi, rupiah dibuka menguat 43 poin ke level Rp16.853 per dolar AS.

Hari ini kurs rupiah diperdagangkan pada rentang Rp16.819-16.857 per dolar AS, dengan year to date(YTD) return 0,84 persen.

1. Nilai tukar rupiah berdasarkan kurs tengah BI

Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah menyentuh Rp16.838 per dolar AS.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kurs rupiah pada penutupan perdagangan pekan kemarin, Kamis, (22/1/2026), yang berada di level RpRp16.838 per dolar AS. Data JISDOR BI menunjukkan rupiah mengalami penguatan sore ini dibandingkan kemarin.

2. Sentimen pergantian Powell picu pelemahan dolar AS

Menurut analis pasar keuangan, Ibrahim Assuaibi pergerakan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang dolar AS didorong oleh sentimen pelaku pasar terhadap isu pergantian Ketua Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell.

“Pasar saat ini menunggu pilihan Presiden AS Donald Trump untuk Ketua Fed berikutnya yang menggantikan Jerome Powell. Ketua The Fed yang lebih lunak akan meningkatkan spekulasi tentang penurunan suku bunga lebih lanjut tahun ini,” tutur Ibrahim dalam keterangannya.

Di sisi lain, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) mendukung keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di level 4,75 persen. Hal itu menurut Ibrahim mendorong penguatan rupiah.

“IMF juga menyoroti arah kebijakan moneter BI yang dinilai sudah tepat. BI tercatat telah menurunkan suku bunga kebijakan sebesar 25 basis poin sebanyak enam kali sejak siklus pemangkasan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dimulai pada September 2024 hingga September 2025,“ ujar Ibrahim.

3. Rupiah diprediksi melemah besok

Meski begitu, Ibrahim melihat penguatan rupiah masih terbatas. Oleh sebab itu, rupiah diprediksi kembali melemah pekan depan.

“Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp16.820-16.850. Untuk sepekan 16.790-17.000,” tutur Ibrahim.

Editorial Team