Jakarta, IDN Times - SPUN, perusahaan rintisan alias startup layanan pendukung perjalanan yang membangun infrastruktur visa berbasis AI telah menutup putaran pendanaan tahap awal dengan total 1,8 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau senilai Rp30,4 miliar.
Dana tersebut akan digunakan buat memulai ekspansi ke sejumlah pasar utama di Asia Tenggara yang dianggap punya proses pengurusan visa masih kompleks dan dan belum terintegrasi di berbagai negara.
Adapun putaran pendanaan terbaru ini dipimpin oleh Genesia Ventures dengan partisipasi dari Antler, Spiral Ventures, Iterative, Kopital Ventures, serta angel investor Kum Hong Siew, mantan Managing Director Airbnb China.
SPUN memulai layanannya dari pengurusan visa masuk (inbound) dan visa keluar (outbound) sebagai dasar layanan mobilitas lintas negara. Berbeda dengan agen visa konvensional, SPUN menggunakan sistem AI khusus membantu pemohon dan mitra usaha mengurus persyaratan visa yang sering kali berubah dan berbeda-beda antar negara dengan proses lebih rapi dan dapat diandalkan.
“Visa sering dianggap sekadar urusan administratif, padahal justru menjadi sumber kecemasan terbesar dalam perjalanan internasional. Baik pemohon individu maupun perusahaan yang mengurus visa dalam jumlah besar, mengalami masalah yang serupa. Lewat satu sistem yang bisa digunakan oleh keduanya, kami ingin membuat proses pengurusan visa jadi lebih pasti dan mudah dikembangkan ke berbagai negara. Terbukti, dalam waktu kurang dari satu tahun, kami telah membantu lebih dari 200 perusahaan serta ribuan pemohon individu memproses visa dengan mudah dan andal,” tutur CEO sekaligus Co-Founder SPUN, Christa Sabathaly dalam pernyataan resminya, Selasa (20/1/2025).
