Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Stok Aluminium China Membeludak Saat Pasokan Dunia Menipis
Bendera China (pixabay.com/SW1994)
  • Konflik bersenjata di Iran memicu penutupan jalur pelayaran Selat Hormuz, membuat pasokan aluminium global terganggu dan harga melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
  • China mengalami penumpukan stok aluminium hingga 1,3 juta ton karena permintaan domestik melemah dan produsen menahan pembelian akibat harga tinggi serta perlambatan sektor properti.
  • Kelebihan stok tersebut membuka peluang ekspor besar bagi China untuk mengisi kekosongan pasokan global, meski masih dibayangi risiko gangguan logistik dan potensi hambatan perdagangan Barat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pecahnya konflik bersenjata di Iran telah memicu krisis pasokan yang serius pada pasar komoditas logam internasional. Terputusnya jalur pelayaran utama di kawasan Teluk membuat harga aluminium global melonjak tajam ke titik tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Kondisi ini menempatkan berbagai industri besar di Eropa dan Amerika Utara, seperti otomotif dan konstruksi, dalam posisi sulit karena harus berebut pasokan bahan baku yang tersisa di tengah mahalnya biaya energi.

Ironisnya, saat negara-negara Barat menghadapi ancaman kelangkaan yang parah, gudang-gudang penyimpanan di China justru mengalami penumpukan stok aluminium hingga melampaui 1,3 juta ton. Kondisi tersebut menempatkan China pada posisi yang sangat strategis untuk menggenjot ekspor dan mengisi kekosongan pasokan di pasar global.

1. Harga aluminium capai Rp57,32 juta imbas penutupan Selat Hormuz

Penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz akibat perang di Iran telah menghentikan ekspor aluminium. Lebih dari lima juta ton aluminium dari produsen besar di kawasan Teluk tidak dapat dikirim. Kejadian ini membuat harga patokan naik hingga menyentuh 3.385 dolar AS (Rp57,32 juta) per metrik ton.

Hilangnya akses ke fasilitas produksi utama, seperti Qatalum di Qatar dan Alba di Bahrain, membuat pasokan berkurang sangat drastis. Industri otomotif dan konstruksi di Eropa serta Amerika Utara kini harus bersaing ketat untuk mendapatkan sisa stok logam. Persaingan ini terjadi di tengah melonjaknya biaya energi global.

Gangguan pelayaran ini tidak hanya melumpuhkan pengiriman produk jadi. Impor bahan baku penting, seperti bauksit dan alumina, juga ikut terhenti. Padahal, bahan baku tersebut sangat dibutuhkan oleh smelter di Timur Tengah agar tetap bisa beroperasi.

Saat ini, para pelaku pasar sedang memantau pergerakan harga dengan saksama. Harga aluminium global diperkirakan dapat menembus angka 4.000 dolar AS (Rp67,73 juta) per metrik ton jika konflik bersenjata ini terus berlanjut tanpa tanda-tanda mereda dalam waktu dekat.

2. Stok aluminium di China menumpuk hingga 1,3 juta ton di tengah kelangkaan global

Di tengah kelangkaan pada pasar internasional, persediaan aluminium primer di China justru membengkak hingga lebih dari 1,3 juta ton. Penumpukan ini terjadi karena para produsen lokal mengurangi aktivitas pembelian secara drastis. Mereka menilai harga saat ini terlalu tinggi, sementara permintaan di dalam negeri masih lesu.

"Pabrik-pabrik di China kini hanya membeli aluminium jika ada kebutuhan yang sangat mendesak. Minat beli mereka merosot tajam setelah harga melonjak hingga mencapai titik tertinggi dalam empat tahun terakhir," ujar analis dari perusahaan riset Mysteel Global, Huang Yuyao, dilansir The Edge Singapore.

Penumpukan stok yang besar ini menjadi peringatan serius bagi kesehatan ekonomi China. Negara tersebut tampak sedang berjuang menghadapi dampak buruk dari mahalnya biaya energi dan melambatnya sektor properti. Padahal, sektor properti selama ini menjadi penyerap utama untuk logam industri.

China sebenarnya memiliki batas kapasitas produksi tahunan yang sangat besar, yaitu mencapai 45 juta ton. Namun, kelebihan pasokan di gudang-gudang utama mencerminkan ketidakseimbangan antara ketersediaan barang dan daya beli industri pengguna akhir. Para pelaku industri saat ini lebih memilih berhati-hati di tengah ketidakpastian kondisi global.

3. Melimpahnya stok aluminium China buka peluang ekspor ke pasar global

Melimpahnya stok di China kini membuka peluang untuk meningkatkan ekspor logam ke pasar global. Langkah ini menjadi solusi untuk mengurangi kelebihan stok, sekaligus memanfaatkan selisih harga yang menguntungkan antara bursa Shanghai dan London.

Bank investasi Goldman Sachs memperkirakan, berhentinya produksi di Timur Tengah selama satu bulan saja bisa mendorong kenaikan harga aluminium hingga mencapai 3.600 dolar AS (Rp60,96 juta) per metrik ton. Kondisi ini memberikan keuntungan ekonomi yang kuat bagi perusahaan-perusahaan China untuk menjual produk mereka ke pasar luar negeri yang sedang kekurangan pasokan.

Ekspor ini diharapkan bisa menjaga kestabilan industri di dalam negeri China. Selain itu, pengiriman ke luar negeri dapat membantu menyeimbangkan pasokan global yang saat ini tidak merata akibat perang langsung di Iran.

Namun, keberhasilan rencana ekspor besar-besaran dari China ini masih dibayangi oleh risiko meluasnya gangguan pengiriman. Terdapat juga kemungkinan munculnya hambatan perdagangan baru dari negara-negara Barat, yang khawatir pasar mereka akan dibanjiri oleh produk logam murah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team