Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Krisis penjualan
ilustrasi krisis penjualan (freepik.com/freepik)

Intinya sih...

  • Analisis penyebab turunnya penjualan

  • Perluas atau sesuaikan produk atau layanan

  • Fokus pada loyalitas dan pelayanan pelanggan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Penurunan penjualan memang sering bikin panik pelaku usaha. Apalagi mengingat operasional tetap harus berjalan dan target terasa makin jauh. Namun, jangan terlalu pesimis. Turunnya penjualan tidak selalu berarti bisnismu gagal. Hal ini kadang terjadi sebagai sinyal bahwa ada hal yang perlu disesuaikan.

Saat tetap tenang dan tidak gegabah dalam bertindak, kamu bisa menjadikan momen ini sebagai titik balik agar usahamu jadi lebih kuat. Dalam artikel ini, kamu akan menemukan 5 cara bijak dalam menyikapi penurunan penjualan. Simak baik-baik penjelasannya dan coba terapkan pada usahamu saat terjadi penurunan.

1. Analisis penyebab turunnya penjualan

ilustrasi menganalisis penyebab turunnya penjualan (pexels.com/Mikhail Nilov)

Asal menebak-nebak penyebab turunnya penjualan terkadang tidak membawa banyak perubahan. Kamu perlu melakukan analisis secara mendalam. Mulailah dari melihat data penjualan per produk, per hari, per kanal, dan bandingkan dengan periode yang sama sebelumnya. Cara ini dilakukan agar kamu bisa menilai apakah penurunannya musiman atau tidak.

Faktor internal dan eksternal juga perlu dipisahkan sejak awal. Faktor internal bisa berupa kualitas layanan, stok produk tidak konsisten, kurang sesuainya jam operasional, atau strategi pemasaran yang tidak jelas. Sedangkan faktor eksternal berupa munculnya pesain, menurunnya daya beli di area tertentu, kebiasaan belanja yang bergeser, atau perubahan aturan platform kalau kamu berjualan di marketplace.

Kamu juga bisa bertanya langsung lewat survei singkat, chat, atau meninjau ulasan pelanggan. Analisis yang mendalam dan rapi membuat kamu lebih fokus dalam memperbaiki hal yang memang perlu diperbaiki.

2. Perluas atau sesuaikan produk atau layanan

ilustrasi pelaku usaha (pexels.com/MART PRODUCTION)

Penyesuaian produk perlu dilakukan apabila penyebab turunnya penjualan karena produk lama mulai kurang relevan. Coba lakukan survei singkat tentang kebutuhan pelanggan, misalnya ukuran yang lebih ekonomis, paket bundling, atau versi yang lebih praktis. Improvisasi pada produk lama seperti memperbarui kemasan serta menambah pilihan rasa atau fitur juga bisa kamu lakukan.

Intinya, kamu perlu menarik perhatian orang-orang dengan alasan baru tanpa bikin operasional berantakan. Supaya tidak terlalu berisiko, lakukan uji coba kecil sebelum produksi atau stok besar-besaran. Kamu bisa melakukannya lewat peluncuran varian terbatas atau memakai sistem pre-order. Inovasi pada produk yang paling sering ditanyakan, paling sering masuk keranjang, atau paling sering dibeli ulang juga bisa jadi pilihan yang aman.

3. Fokus pada loyalitas dan pelayanan pelanggan

ilustrasi membangun hubungan yang baik dengan pelanggan (pexels.com/Mizuno K)

Menjaga loyalitas pelanggan lama biasanya lebih efektif daripada mengejar pelanggan baru saat penjualan menurun. Perkuat pelayanan dengan memberi respons yang cepat, informasi yang jelas, dan sikap solutif ketika ada komplain. Jika memungkinkan, kelola hubungan dengan pelanggan dengan membuat catatan yang rapi. Tulis siapa saja yang sering belanja, produk apa yang mereka suka, dan kapan mereka biasanya repeat order.

Program loyalitas seperti poin belanja, bonus kecil untuk pembelian tertentu, voucher ulang tahun, atau layanan prioritas untuk pelanggan tetap juga bisa kamu coba. Agar kepercayaan pelanggan meningkat, minta masukan pada mereka dengan cara yang sopan. Lalu pastikan bahwa kamu benar-benar menindak lanjuti masukan itu agar pelanggan merasa didengar.

4. Optimalkan pemasaran, terutama digital

ilustrasi membuat konten promosi produk (pexels.com/Hanna Pad)

Strategi pemasaran perlu kamu sesuaikan karena perilaku konsumen cepat berubah. Pastikan identitas bisnis jelas, mulai dari foto produk, deskripsi manfaat, harga, sampai cara pemesanan yang mudah. Konsisten unggahan dan kualitas informasi di laman digital juga lebih berpengaruh daripada asal posting.

Kalau kamu berjualan di marketplace, optimalkan judul produk, kata kunci, foto, dan kecepatan respons chat. Kamu juga bisa melakukan pengujian pada beberapa format promosi. Misalnya video singkat, infografik sederhana, atau cerita di balik produk, lalu lihat mana yang paling mendorong klik dan pembelian. Jika ada anggaran, iklan digital dengan target yang spesifik juga bisa dipakai. Jangan menarget semua orang sekaligus agar biayanya tidak terlalu besar.

5. Kontrol biaya sambil jaga kualitas

ilustrasi mengatur arus kas usaha (pexels.com/olia danilevich)

Agar bisnis tetap berjalan, kesehatan arus kas harus jadi prioritas saat penjualan menurun. Coba kelompokkan biaya tetap dan biaya variabel, lalu cari pos yang bisa dihemat tanpa mengganggu kualitas produk atau layanan. Mulailah dari hal yang sering bocor, seperti pemborosan bahan, biaya pengiriman yang tidak efisien, stok menumpuk, atau jam kerja yang tidak optimal.

Menjaga kualitas tetap penting karena kualitas adalah alasan utama pelanggan bertahan. Kalau biaya bahan perlu ditekan, cari alternatif yang setara dan lakukan uji hasil terlebih dahulu. Jangan langsung mengganti secara total karena terlalu berisiko. Proses produksi juga perlu dirapikan dengan standar kerja yang jelas supaya hasil konsisten dan kesalahan berulang yang merugikan bisa ditekan.

Intinya, jangan buru-buru dalam mengambil keputusan saat menghadapi penurunan penjualan. Melakukan analisasi penyebab secara mendalam dan menentukan strategi yang tepat akan memberi peluang pulih lebih besar. Terapkan satu langkah yang paling relevan dulu, ukur hasilnya, lalu lanjutkan perbaikan berikutnya dengan ritme yang konsisten.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian