Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia(www.garuda-indonesia.com)
Sementara itu, pendapatan usaha konsolidasian naik 5,36 persen menjadi 762,35 juta dolar AS dibanding kuartal I-2026 sebesar 723,56 juta dolar AS. Kenaikan ini terutama didorong oleh pendapatan penerbangan berjadwal yang melonjak 7,36 persen menjadi 648,10 juta dolar AS, seiring meningkatnya frekuensi penerbangan dan okupansi penumpang.
"Perseroan juga berhasil menekan rugi bersih hingga 45,2 persen menjadi 41,62 juta dolar AS, dibanding 75,93 juta dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pencapaian ini mencerminkan hasil awal transformasi operasional dan penguatan fondasi keuangan untuk pertumbuhan berkelanjutan," tuturnya.
Tingkat ketepatan waktu penerbangan (on time performance/OTP) meningkat menjadi 91,01 persen, dari 87,93 persen pada kuartal -2026. Dari sisi armada, hingga akhir kuartal I-2026, Garuda mengoperasikan 102 armada serviceable sebagai bagian dari program return-to-service (RTS) secara bertahap. Pada periode yang sama, Garuda mengangkut 2,47 juta penumpang, sedangkan anak usaha Citilink mengangkut 2,94 juta penumpang.
Glenny menekankan fokus perusahaan pada penguatan fundamental bisnis melalui operational excellence, cost discipline, penguatan service reliability, optimalisasi jaringan penerbangan, serta transformasi layanan dan digitalisasi operasional.
“Transformasi yang dijalankan adalah proses rebuilding fundamentals secara menyeluruh, agar Garuda Indonesia tumbuh dengan fondasi bisnis yang sehat, agile, dan berkelanjutan. Susunan manajemen baru diharapkan mempercepat fase turnaround dan menjadikan Garuda sebagai national flag carrier yang berdaya saing serta memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa,” ujar Glenny.