ilustrasi bendera Swedia (unsplash.com/markkoenig)
Pemerintah Swedia telah menyiapkan paket bantuan ekonomi senilai 4,7 miliar krona Swedia (Rp8,42 triliun). Paket ini dirancang khusus untuk meringankan beban finansial rumah tangga yang terdampak gejolak ekonomi akibat konflik di Timur Tengah.
Poin utama kebijakan ini adalah pemangkasan pajak bensin dan diesel hingga tingkat terendah yang diizinkan oleh regulasi Uni Eropa. Berdasarkan pengumuman resmi, harga bensin akan turun sebesar 1 krona Swedia (Rp1,79 ribu) per liter, sementara harga diesel berkurang 0,4 krona Swedia (Rp717) per liter. Penyesuaian pajak ini dijadwalkan berlaku mulai 1 Mei hingga 30 September 2026.
Perdana Menteri Swedia, Ulf Kristersson, menegaskan bahwa langkah ini krusial mengingat stabilitas keuangan nasional Swedia sedang berada di bawah tekanan berat.
"Apa yang terjadi di Timur Tengah dan dunia secara luas tengah menguji ketahanan ekonomi Swedia hingga ke titik batasnya," ujar Perdana Menteri Ulf Kristersson, dikutip dari Xinhua.
Selain sektor transportasi, pemerintah juga mengalokasikan 3,4 miliar krona Swedia (Rp6 triliun) untuk membantu warga membayar tagihan listrik dan gas. Subsidi ini bertujuan mengganti biaya energi rumah tangga yang melonjak pada Januari dan Februari tahun ini. Badan Asuransi Sosial Swedia akan menyalurkan bantuan tersebut secara otomatis pada Juni mendatang dengan perhitungan berdasarkan tingkat konsumsi energi masing-masing rumah tangga.
Menteri Energi Swedia, Ebba Busch, menjelaskan bahwa dukungan ini merupakan upaya pemerintah dalam membantu masyarakat mengelola ketidakpastian ekonomi.
"Dukungan ini didasarkan pada konsumsi sebelumnya, namun esensinya adalah membantu rumah tangga mengelola gejolak ekonomi saat ini," kata Ebba Busch.