Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tak Lagi Jadi Pasar, Industri Migas RI Didorong Kuasai Rantai Pasok
Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Rehia Sebayang)
  • Industri migas Indonesia dinilai perlu transformasi besar dari sekadar pengekstraksi sumber daya menjadi penguasa rantai pasok global melalui peningkatan teknologi dan daya saing industri dalam negeri.
  • Indonesia Seamless Tube berkontribusi Rp15 triliun bagi devisa negara lewat substitusi impor dan ekspor, sekaligus mendukung proyek migas berstandar internasional di Asia hingga Timur Tengah.
  • Penguatan industri nasional menuntut dukungan regulasi pro-industri, investasi teknologi, serta peningkatan kualitas SDM agar Indonesia mampu membangun ekosistem migas yang mandiri dan kompetitif secara global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Industri minyak dan gas (migas) nasional dinilai berada di titik krusial. Ketergantungan pada impor pipa dan peralatan strategis, keterbatasan penguasaan teknologi, hingga lemahnya basis industri domestik menjadi penghambat Indonesia untuk naik kelas dalam rantai nilai global.

Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Migas Indonesia (IAFMI) Gede Pramona mengatakan, transformasi industri menjadi kebutuhan mendesak.

Oleh karena itu, pentingnya peningkatan daya saing industri pipa seamless dalam negeri yang saat ini memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sekitar 46 persen.

“Transformasi dari sekedar resource extraction menuju industrial capability menjadi satu-satunya jalan agar Indonesia keluar dari jebakan ekonomi berbasis komoditas,” ujar Gede dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).

1. Indonesia harus menjadi pengendali rantai pasok global

ilustrasi ekspor (pexels.com/Wolfgang Weiser)

Chief Commercial Officer PT Artas Energi Petrogas Hendrik Kawilarang Luntungan menegaskan, Indonesia tidak bisa terus menjadi pasar bagi industri global.

“Indonesia harus menjadi produsen, pemilik teknologi, dan pengendali rantai pasok. Jika tidak sekarang, kita akan terus tertinggal,” katanya.

2. Sumbang ke devisa negara Rp15 triliun

Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat)

Ia mengungkapkan, Indonesia Seamless Tube (IST) sebagai satu-satunya produsen seamless tube di Indonesia telah berkontribusi terhadap devisa negara hingga Rp15 triliun melalui substitusi impor dan ekspor ke pasar Asia hingga Timur Tengah.

"Produk IST juga telah digunakan dalam proyek kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dengan standar internasional API 5CT dan API 5L," tegasnya.

IAFMI bersama KMI pun mendorong transformasi industri migas nasional agar memberikan dampak langsung, antara lain:

1. Penurunan signifikan impor peralatan migas

2. ⁠Efisiensi dan optimalisasi cost recovery

3. ⁠Peningkatan TKDN berbasis kualitas, bukan sekadar angka

4. ⁠Lahirnya national champions industri migas

5. ⁠Penguatan posisi Indonesia sebagai basis industri migas di Asia Tenggara

3. Penguatan industri nasional butuh dukungan banyak pihak

Ilustrasi Industri Pabrik (pexels.com/Pixabay)

Chairman Komunitas Migas Indonesia, S. Herry Putranto memgungkapkan masih ada sejumlah tantangan masih membayangi. Di antaranya tingginya ketergantungan pada impor komponen kritikal, lemahnya penguasaan teknologi dan riset (R&D), regulasi yang belum kompetitif, hingga kesenjangan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Dengan demikian, penguatan industri nasional membutuhkan dukungan kebijakan yang berpihak.

“Yang dibutuhkan adalah keberanian membangun industri sendiri, didukung regulasi yang pro-industri nasional, investasi teknologi, serta kesiapan SDM agar mampu bersaing di tingkat global,” ujarnya.

Melalui kunjungan ini, IAFMI dan KMI menyerukan percepatan reformasi regulasi, penguatan kedaulatan rantai pasok, serta pembangunan ekosistem industri migas yang mandiri dan berdaya saing.

Editorial Team