Mari Elka Pangestu dalam acara SAT 2026. (IDN Times/Herka Yanis)
Mari menegaskan, peran penting sektor swasta dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, terutama dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Menurut dia, investasi juga dapat diarahkan pada sektor yang memiliki daya serap tenaga kerja tinggi.
"Tentu investasi, tapi investasinya mudah-mudahan di bidang-bidang yang juga akan menciptakan lapangan pekerjaan," ujar Mari.
Penciptaan lapangan pekerjaan juga akan berkontribusi dalam menekan ketimpangan pendapatan. Inequality ini tercermin dari rasio gini Indonesia yang masih berada di angka 0,375.
"Saya sampaikan masalah koefisien gini yang harusnya bisa lebih baik, lebih equal, salah satu masalah utamanya adalah penciptaan lapangan pekerjaan dengan decent work, decent wage," kata Mari.
Bagi Mari, penyebab kurang meratanya koefisien gini Indonesia utamanya karena lapangan pekerjaan yang cukup serta inequality of opprtunity. Termasuk, bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan dalam jangka pendek, baik melalui program padat karya, casual work atau magang yang dilakukan pemerintah. Selain itu, kata dia, program jangka menengah panjang seperti perbaikan di bidang pendidikan, keterampilan, dan lain sebagainya juga dapat membantu menciptakan pemerataan.
Namun, tantangan yang masih dihadapi di pasar tenaga kerja Indonesia adalah dominasi oleh sektor informal. Sebagian pekerjaan yang tercipta berada di luar sektor formal dengan pendapatan di bawah upah minimum.
"Itu memang kaitannya dengan investment, tapi juga dengan kenyataan kita menciptakan lapangan pekerjaan di Indonesia lebih banyak ke informal sektor. Rata-rata penghasilannya di bawah UMP, dan banyak yang masuk ke informal sector karena terpaksa, karena formal sektornya tidak menciptakan lapangan pekerjaan yang cukup," tambahnya.