Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi wanita muslim fokus kerja
ilustrasi wanita muslim fokus kerja (pexels.com/Cedric Fauntleroy)

Intinya sih...

  • Perubahan perilaku konsumen selama Ramadan, terutama dalam aktivitas online shopping dan konsumsi konten digital.

  • Kampanye digital yang relevan dan empatik akan mendapat respons positif, dengan pendekatan storytelling yang menyentuh dan autentik.

  • Sesuaikan produk dengan kebutuhan musiman Ramadan, tawarkan promo strategis, dan bangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ramadan selalu jadi momentum besar dalam dunia bisnis, terutama di Indonesia yang mayoritas penduduknya merayakan bulan suci ini dengan antusias. Pola konsumsi berubah, preferensi belanja meningkat, dan interaksi di media sosial melonjak tajam. Tahun 2026 diprediksi tetap menghadirkan dinamika serupa, dengan sentuhan digital yang makin kuat dan perilaku konsumen yang makin selektif.

Produk yang relevan saat Ramadan bukan cuma soal diskon atau kemasan bernuansa religi. Ada pergeseran ke arah nilai, pengalaman, dan kedekatan emosional yang terasa lebih autentik. Brand yang mampu membaca tren dengan cermat punya peluang besar untuk tetap menonjol di tengah persaingan ketat. Yuk, simak strategi cerdas supaya produk tetap relevan dan menonjol selama Ramadan 2026!

1. Pahami perubahan perilaku konsumen saat Ramadan

ilustrasi meeting kerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

Perilaku konsumen selama Ramadan mengalami perubahan yang cukup signifikan dibanding bulan biasa. Jam aktif bergeser ke waktu sahur dan setelah berbuka, terutama untuk aktivitas online shopping dan konsumsi konten digital. Pola ini perlu dipahami supaya komunikasi produk selaras dengan ritme harian audiens.

Selain itu, konsumen cenderung lebih mempertimbangkan nilai spiritual dan kebermanfaatan produk. Produk yang selaras dengan semangat berbagi dan kebersamaan biasanya lebih mudah diterima pasar. Memahami dinamika ini membantu brand menyesuaikan pesan secara lebih tepat sasaran.

2. Optimalkan kampanye digital yang relevan dan empatik

ilustrasi wanita muslim membuat konten (pexels.com/RDNE Stock project)

Ramadan 2026 diperkirakan tetap didominasi aktivitas digital, baik di media sosial maupun marketplace. Konten yang bernuansa reflektif, inspiratif, dan penuh empati cenderung mendapat respons lebih positif dibanding promosi agresif. Strategi komunikasi yang terlalu keras justru berisiko terasa gak sensitif terhadap suasana bulan suci.

Pendekatan storytelling yang menyentuh dan autentik bisa memperkuat koneksi emosional dengan audiens. Kolaborasi dengan content creator yang memiliki citra positif juga membantu memperluas jangkauan. Kampanye digital yang tepat membantu brand tetap relevan tanpa kehilangan nilai etika.

3. Sesuaikan produk dengan kebutuhan musiman

ilustrasi wanita muslim (pexels.com/RDNE Stock project)

Ramadan identik dengan kebutuhan khas seperti hampers, busana muslim, makanan berbuka, dan perlengkapan ibadah. Produk yang disesuaikan dengan kebutuhan musiman punya peluang lebih besar untuk menarik perhatian pasar. Penyesuaian ini bukan sekadar ubah kemasan, tapi juga memahami fungsi dan makna produk dalam konteks Ramadan.

Misalnya, brand makanan bisa menghadirkan varian rasa spesial edisi Ramadan, sementara brand fashion bisa merilis koleksi modest yang elegan. Penyesuaian ini membantu produk terasa kontekstual dan gak terkesan generik. Ketepatan membaca momentum musiman menjadi kunci daya saing yang kuat.

4. Tawarkan promo yang strategis dan bernilai

ilustrasi promo (pexels.com/Markus Spiske)

Promo tetap menjadi daya tarik utama selama Ramadan, tapi pendekatannya perlu lebih strategis. Konsumen kini lebih selektif dan cenderung membandingkan harga di berbagai platform. Oleh karena itu, transparansi dan nilai tambah menjadi faktor penting.

Alih-alih sekadar potongan harga besar, paket bundling atau program berbagi seperti donasi sebagian keuntungan bisa memberi kesan lebih bermakna. Strategi ini bukan cuma menarik secara ekonomi, tapi juga memperkuat citra positif brand. Promo yang tepat sasaran membantu meningkatkan loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.

5. Bangun hubungan jangka panjang, bukan sekadar momentum

ilustrasi wanita muslim kerja (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Ramadan memang momentum musiman, tapi dampaknya bisa terasa panjang jika dikelola dengan baik. Interaksi yang terbangun selama bulan suci bisa menjadi fondasi hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Oleh karena itu, fokus gak cuma pada lonjakan penjualan sesaat.

Brand yang konsisten menjaga komunikasi setelah Ramadan biasanya lebih mudah mempertahankan kepercayaan pasar. Program follow up atau kampanye pasca Ramadan membantu menjaga koneksi tetap hangat. Strategi ini memastikan produk tetap relevan bahkan setelah momen musiman berlalu.

Ramadan 2026 adalah peluang besar bagi brand yang mampu membaca tren dengan cermat dan sensitif. Relevansi bukan hanya soal tampil beda, tapi juga soal memahami nilai dan kebutuhan audiens. Dengan strategi yang tepat, momentum Ramadan bisa menjadi batu loncatan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Produk yang relevan saat Ramadan berpeluang tetap kuat bahkan setelah bulan suci berakhir.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian