Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp7.660 Triliun di Maret 2026
ilustrasi utang (unsplash.com/rc.xyz NFT gallery)
  • Bank Indonesia melaporkan utang luar negeri Indonesia per Maret 2026 mencapai 433,4 miliar dolar AS atau Rp7.660 triliun, tumbuh melambat 0,8 persen dibanding kuartal sebelumnya.
  • Utang pemerintah tercatat 214,7 miliar dolar AS dengan pertumbuhan 3,8 persen yoy dan mayoritas digunakan untuk sektor kesehatan, pendidikan, konstruksi, serta transportasi.
  • Utang swasta turun menjadi 191,4 miliar dolar AS atau kontraksi 1,8 persen yoy, terutama dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan, listrik-gas, dan pertambangan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia per akhir Maret 2026 tumbuh melambat di tengah penurunan utang sektor swasta.

Dalam laporan terbarunya, BI menyebut posisi ULN Indonesia pada akhir kuartal I 2026 mencapai 433,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp7.660,7 triliun (asumsi kurs Rp17.674 per dolar AS).

Angka tersebut tumbuh 0,8 persen secara tahunan (year on year/yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan pada kuartal IV 2025 yang sebesar 1,9 persen yoy.

"Perkembangan posisi ULN tersebut dipengaruhi oleh ULN sektor publik dan ULN sektor swasta," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resminya, dikutip, Selasa (19/5/2026).

1. Utang luar negeri pemerintah di kuartal I capai 214,7 miliar dolar AS

Ilustrasi hutang konsumtif (freepik.com/rawpixel.com)

Ramdan merinci, ULN pemerintah pada kuartal I 2026 tercatat sebesar 214,7 miliar dolar AS atau tumbuh 3,8 persen yoy. Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 5,5 persen yoy.

"Perkembangan ULN pemerintah dipengaruhi oleh aliran modal asing yang masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional seiring tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia," katanya.

Sebagai salah satu instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ULN pemerintah dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel dengan pemanfaatan yang terus diarahkan untuk mendukung belanja prioritas pemerintah dan memanfaatkan momentum pertumbuhan perekonomian.

2. Rincian utang pemerintah tersebar di berbagai sektor

ilustrasi bayar hutang (unsplash.com/TowfiquBarbhuiya)

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung berbagai sektor, rinciannya:

  • Sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial: 22,1 persen dari total ULN pemerintah

  • Administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib: 20,2 persen

  • Jasa pendidikan: 16,2 persen

  • Konstruksi: 11,5 persen

  • Transportasi dan pergudangan: 8,5 persen

ULN pemerintah didominasi utang jangka panjang dengan porsi mencapai 99,99 persen dari total ULN pemerintah.

3. ULN swasta capai 191,4 miliar dolar AS

ilustrasi evaluasi hutang (freepik.com/rawpixel.com)

Sementara itu, ULN swasta justru menurun. Posisi ULN swasta pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 191,4 miliar dolar AS, turun dibandingkan posisi triwulan IV 2025 sebesar 194,2 miliar dolar AS.

Secara tahunan, ULN swasta mengalami kontraksi 1,8 persen yoy. Penurunan terjadi baik pada lembaga keuangan maupun perusahaan nonkeuangan.

Kontraksi ULN lembaga keuangan mencapai 3,6 persen yoy, sedangkan perusahaan nonkeuangan turun 1,3 persen yoy.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian dengan porsi mencapai 80,4 persen dari total ULN swasta.

Editorial Team