ilustrasi legal dan pengadilan (pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA)
Semua perjanjian perkawinan bisa diperiksa oleh pengadilan jika suatu saat disengketakan. Namun, postnup cenderung diperiksa lebih ketat dibandingkan prenup. Hal ini karena setelah menikah, sudah ada hak atas harta bersama dan kewajiban hukum yang melekat di antara pasangan.
Pengadilan biasanya akan melihat apakah ada unsur penipuan, paksaan, tekanan, atau ketidakadilan yang signifikan. Jika perjanjian dianggap terlalu berat sebelah atau melanggar kebijakan publik, maka bisa saja dinyatakan gak berlaku. Karena itu, penting bagi kedua pihak untuk terbuka dan idealnya mendapatkan pendampingan hukum masing-masing saat menyusun perjanjian.
Sekilas, prenup dan postnup terlihat hanya berbeda soal waktu penandatanganan. Padahal, ada perbedaan penting dalam konteks hubungan hukum, situasi penggunaannya, hingga potensi pemeriksaan oleh pengadilan. Memahami hal ini membantumu melihat perjanjian perkawinan sebagai alat perlindungan, bukan ancaman bagi hubungan.
Pada akhirnya, keputusan membuat prenup atau postnup adalah soal kesiapan kamu dan pasangan dalam mengelola risiko secara dewasa. Jadi sebelum menikah, pastikan kamu sudah memahami opsi yang ada dan memilih yang paling sesuai dengan kondisi hidupmu, ya.