ilustrasi pinjaman online (IDN Times/Aditya Pratama)
Sementara itu, CEO Mandala Consulting, Manggala Putra Santosa mengungkapkan peningkatan rasio kredit sangat menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara melalui penguatan konsumsi, investasi, dan produktivitas.
Namun, tidak dipungkiri tantangan akses kredit di Indonesia belum bisa dilepaskan dari besarnya populasi yang belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam sistem keuangan formal. Data World Bank menunjukkan sekitar 48 persen penduduk dewasa Indonesia masih underbanked, sedangkan data SNLIK OJK mencatat inklusi keuangan perbankan baru mencapai sekitar 70 persen pada 2025. Artinya, masih ada sekitar 30 persen orang dewasa di Indonesia masih financially excluded.
Data dari Bank Dunia (World Bank) juga menunjukkan rasio kredit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih relatif rendah dan cenderung stagnan di kisaran 36,4 persenpada periode 2024–2025. Angka ini berada jauh di bawah rata-rata negara berpendapatan menengah atas di kawasan yang mencapai 74,46 persen, maupun negara berpendapatan menengah bawah di 62,72 persen.
Menurut Manggala, kesenjangan ini antara lain dipengaruhi oleh ketatnya persyaratan kredit formal, serta masih luasnya segmen masyarakat produktif yang belum terlayani oleh lembaga keuangan konvensional.
Sejalan dengan hasil temuan terkait keterbatasan akses masyarakat terhadap produk keuangan formal di tengah penetrasi internet Indonesia yang telah mencapai 75 persen, hasil studi White Paper mengungkap mulai adanya pergeseran pertumbuhan kanal pembiayaan.
Meski perbankan masih menjadi penyedia kredit utama dengan nilai pinjaman yang besar, tetapi pindar menjadi kanal yang tumbuh paling cepat, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 34 persen pada periode 2019-2024. Hal ini lantaran pindar menawarkan dua nilai tambah utama, yaitu membuka akses ke segmen yang selama ini belum tergarap optimal dan mendorong inovasi melalui underwriting digital, pemanfaatan data alternatif untuk credit scoring, serta proses yang lebih agile.
"Jadi ini bukan semata persoalan kemampuan ekonomi, melainkan keterbatasan sistem penilaian risiko konvensional yang belum sepenuhnya dirancang untuk membaca profil mereka. Indonesia memiliki potensi ekonomi yang sangat besar, tetapi belum sepenuhnya tergarap. Pipanya sudah terpasang dan konektivitas sudah tersedia, tapi pembiayaan formal belum sepenuhnya mengalir. Dengan demikian tantangan utamanya terletak pada aspek kepercayaan, data, dan dokumentasi. Di sinilah pindar memiliki fleksibilitas operasional dan kecepatan untuk merangkul mereka,” tutur Manggala.
Dengan terus meningkatnya penggunaan layanan pindar, disertai penguatan ekosistem industri fintech, tata kelola, model bisnis, serta kapabilitas teknologi yang dimiliki, tingkat kepercayaan institusi keuangan terhadap kanal pembiayaan ini turut mengalami peningkatan.
Studi pun menemukan, bank secara bertahap telah berkembang menjadi penyedia likuiditas utama bagi industri pindar, dengan porsi pendanaan dari perbankan meningkat signifikan dari hanya 15 persenatau sekitar Rp1,5 triliun pada Januari 2021, menjadi 71 persen atau Rp46,6 triliun pada Januari 2025.
Lebih lanjut, Studi Cambridge Center for Alternative Finance (2022) menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen peminjam pindar meningkatkan penggunaan rekening tabungan, dan lebih dari 35 persen mengajukan pinjaman bank setelah menyelesaikan pinjaman dari platform pindar.