Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi bisnis properti
Ilustrasi bisnis properti (pexels.com/Thirdman)

Intinya sih...

  • Kebutuhan tempat tinggal tidak akan hilang

  • Nilai aset properti cenderung stabil

  • Selalu memiliki nilai fungsional dan emosional

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat kondisi ekonomi sedang naik turun, banyak orang menunda berbagai keputusan finansial. Namun, properti justru termasuk sektor yang tetap menarik perhatian. Banyak investor menganggapnya sebagai tempat yang relatif aman untuk menyimpan nilai aset. Walaupun pasar bisa melambat, minat terhadap properti hampir tidak pernah hilang karena kebutuhannya bersifat dasar.

Hal inilah yang membuat bisnis properti terus dipandang sebagai peluang yang layak digarap, bahkan saat kondisi ekonomi terasa tidak pasti. Sifat properti yang cenderung stabil juga memberikan rasa aman bagi pemiliknya. Nah, beriku ini lima alasan bisnis properti tetap menjanjikan meski ekonomi tidak stabil. Scroll dibawah ini!

1. Kebutuhan tempat tinggal tidak akan hilang

Membeli Rumah (freepik.com/pressfoto)

Kebutuhan dasar manusia tidak terpengaruh oleh situasi ekonomi, dan tempat tinggal adalah salah satunya. Masyarakat tetap memerlukan hunian, baik itu dalam bentuk rumah, apartemen, maupun kos. Permintaan ini tidak sepenuhnya turun meski daya beli melemah. Biasanya justru terjadi pergeseran pilihan, misalnya dari rumah besar ke rumah yang lebih sederhana, atau dari apartemen mewah ke tipe yang lebih terjangkau, tetapi kebutuhan utamanya tetap sama.

Karena permintaan yang bersifat konstan ini, bisnis properti tetap bergerak dari waktu ke waktu. Pembangunan memang bisa melambat, tetapi transaksi tidak benar-benar berhenti. Selama masyarakat terus membutuhkan tempat tinggal, sektor properti akan selalu menemukan konsumennya. Inilah salah satu alasan mengapa bisnis properti tetap hidup bahkan ketika ekonomi sedang goyah.

2. Nilai aset properti cenderung stabil

Ilustrasi agen properti (pexels.com/RDNE Stock project)

Banyak investor melirik properti saat kondisi ekonomi tidak menentu karena sifatnya yang relatif stabil. Nilai properti memang bisa naik atau turun, tetapi pergerakannya cenderung pelan dan tidak ekstrem seperti instrumen keuangan lain. Turbulensi ekonomi biasanya membuat investor memindahkan asetnya ke bentuk yang lebih aman, dan properti menjadi pilihan paling logis.

Kestabilan ini juga memberi rasa aman untuk pebisnis properti. Fluktuasi harga yang tidak terlalu liar membuat pemilik properti punya ruang untuk mengatur strategi tanpa panik. Mereka bisa menunda penjualan sampai pasar membaik atau mengubah properti menjadi aset produktif melalui penyewaan. Konsistensi nilai inilah yang membuat bisnis properti tetap bertahan meski ekonomi bergejolak.

3. Selalu memiliki nilai fungsional dan emosional

Ilustrasi membeli rumah (pexels.com/Kindel Media)

Berbeda dari aset lain yang hanya dinilai dari angka, properti memiliki nilai emosional dan fungsi nyata dalam kehidupan. Orang membeli rumah bukan hanya untuk investasi, tetapi juga untuk rasa aman, kenyamanan, dan masa depan keluarga. Nilai emosional ini membuat permintaan properti tidak mudah hilang meski kondisi ekonomi sedang tidak stabil.

Selain itu, properti memegang fungsi vital sebagai tempat tinggal atau tempat usaha. Fungsinya jelas dan dibutuhkan setiap hari, sehingga nilainya tidak dapat digantikan oleh instrumen investasi lain. Inilah salah satu faktor yang menjaga bisnis properti tetap menarik dan relevan.

4. Diversifikasi lebih mudah dibangun

Ilustrasi bisnis properti (pexels.com/Thirdman)

Bisnis properti memungkinkan pemiliknya melakukan diversifikasi untuk mengurangi risiko. Saat pasar residensial melemah, pasar komersial mungkin tetap stabil. Jika penyewaan jangka panjang sepi, sewa harian atau bulanan bisa menjadi alternatif. Banyaknya model bisnis dalam properti membuat pelaku usaha dapat menyesuaikan strategi dengan kondisi ekonomi yang berubah-ubah.

Selain itu, diversifikasi juga bisa dilakukan berdasarkan lokasi. Area tertentu mungkin sedang stagnan, tetapi daerah lain justru berkembang karena pembangunan infrastruktur baru. Fleksibilitas seperti ini membantu pelaku bisnis bertahan dan tetap meraih keuntungan di tengah ketidakpastian.

5. Tanah tidak bertambah jumlah penduduk meningkat

Ilustrasi bisnis properti (pexels.com/Kampus Production)

Salah satu alasan properti tahan krisis adalah faktor kelangkaannya. Tanah tidak bertambah, sedangkan jumlah penduduk terus meningkat. Ketidakseimbangan ini menciptakan permintaan jangka panjang yang konsisten. Dalam kondisi ekonomi apapun, lahan tetap memiliki nilai yang dijaga oleh keterbatasan alamnya.

Karena itulah bisnis properti dianggap tahan banting. Keterbatasan lahan membuat harga cenderung naik dalam jangka panjang meski ada fase stagnan. Hal ini memberikan jaminan bagi pemilik bisnis bahwa properti mereka tidak akan kehilangan nilai secara drastis. Dalam jangka panjang, potensi keuntungannya tetap besar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian