Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apa Itu PBG? Pengertian, Fungsi, hingga Cara Mengurusnya
ilustrasi mengurus PBG (pexels.com/Ivan S)
  • PBG adalah pengganti IMB yang memastikan rencana bangunan memenuhi standar teknis sebelum pembangunan dilakukan.

  • PBG wajib dimiliki untuk pembangunan baru, renovasi besar, maupun perubahan fungsi bangunan agar legal secara hukum.

  • Memiliki PBG membantu menghindari sanksi hukum sekaligus meningkatkan keamanan dan nilai jual properti.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Perubahan aturan perizinan bangunan di Indonesia membuat banyak orang mulai bertanya-tanya tentang istilah baru bernama Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Istilah ini semakin sering muncul sejak IMB resmi dihapus.

Memahami apa itu PBG menjadi penting, terutama bagi kamu yang berencana membangun rumah, merenovasi bangunan, atau menjalankan usaha properti agar proses pembangunan tetap legal dan aman secara hukum.

Sejak berlakunya Undang-Undang Cipta Kerja, sistem perizinan bangunan mengalami perubahan besar. Izin Mendirikan Bangunan (IMB) kini digantikan oleh PBG, yang tidak lagi sekadar izin administratif, tetapi berfokus pada pemenuhan standar teknis bangunan sejak tahap perencanaan.

1. Apa itu PBG? Ini pengertiannya menurut aturan hukum

ilustrasi properti (Pexels.com/Engin Akyurt)

Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) adalah perizinan yang diberikan kepada pemilik bangunan sebagai bukti bahwa rencana teknis bangunan telah memenuhi standar teknis yang berlaku. Ketentuan ini diatur dalam PP Nomor 16 Tahun 2021 sebagai turunan dari Undang-Undang Cipta Kerja.

Berbeda dengan IMB yang dulu identik sebagai izin sebelum membangun, PBG menempatkan kualitas perencanaan sebagai fokus utama. Negara memastikan bahwa bangunan yang akan didirikan sudah memenuhi standar keselamatan, kesehatan, kenyamanan, serta kemudahan akses bagi penggunanya.

PBG juga tidak hanya berlaku untuk pembangunan baru. Dokumen ini wajib dimiliki ketika seseorang ingin:

  • membangun bangunan baru,

  • mengubah atau memperluas bangunan,

  • mengurangi bagian bangunan,

  • hingga melakukan perawatan yang memengaruhi struktur utama.

Artinya, pembangunan hanya boleh dimulai setelah PBG diterbitkan secara resmi.

2. Kenapa IMB diganti menjadi PBG?

Ilustrasi mengurus PBG (Dok. Diskominfo Kota Surabaya)

Pergantian IMB ke PBG bukan sekadar perubahan istilah. Pemerintah mengubah pendekatan perizinan dari berbasis izin administratif menjadi sistem berbasis standar teknis.

Sebelumnya, IMB sering dipahami sebagai formalitas dokumen. Kini melalui PBG, pemerintah melakukan pengawasan sejak tahap desain bangunan. Rencana arsitektur, struktur, hingga sistem utilitas diperiksa lebih dulu sebelum konstruksi dimulai.

Tujuan perubahan ini antara lain:

  • memastikan bangunan aman digunakan,

  • menjaga kesesuaian dengan tata ruang wilayah,

  • meningkatkan transparansi perizinan melalui sistem digital,

  • serta mendorong pembangunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Dengan kata lain, PBG berfungsi sebagai mekanisme “penyaring awal” agar pembangunan tidak menimbulkan risiko di masa depan.

3. Jenis bangunan apa saja yang wajib memiliki PBG?

Ilustrasi properti (Aleksejs Bergmanis/Pexels)

Cakupan PBG sebenarnya sangat luas dan berlaku hampir untuk semua jenis bangunan gedung di Indonesia.

Secara umum, PBG dibedakan berdasarkan fungsi bangunan, di antaranya:

Bangunan hunian

  • rumah tinggal tunggal,

  • rumah susun atau apartemen.

Bangunan komersial

  • gedung perkantoran,

  • pusat perbelanjaan,

  • hotel dan restoran.

Bangunan publik

  • rumah sakit,

  • sekolah atau kampus,

  • tempat ibadah.

Bangunan khusus

  • fasilitas industri,

  • pembangkit energi,

  • infrastruktur transportasi.

Selain itu, renovasi besar atau perubahan fungsi bangunan seperti mengganti rumah tinggal menjadi kantor, juga wajib mengajukan PBG baru karena standar teknisnya berubah.

4. Apa tujuan dan fungsi PBG bagi masyarakat?

ilustrasi bangunan (pexels.com/Gashif Rheza)

Keberadaan PBG bukan hanya untuk kepentingan pemerintah, tetapi juga melindungi pemilik dan pengguna bangunan.

Secara praktis, PBG memiliki beberapa fungsi utama. Pertama, sebagai bukti legalitas bahwa bangunan didirikan sesuai aturan hukum. Kedua, memastikan proses pembangunan berjalan terencana karena seluruh aspek teknis telah diverifikasi sebelumnya.

Selain itu, PBG juga:

  • melindungi penghuni dari risiko kegagalan struktur,

  • menjadi acuan evaluasi kelayakan bangunan,

  • meningkatkan nilai jual properti,

  • serta mempermudah proses perizinan usaha karena menjadi syarat dasar operasional bisnis.

Bangunan yang memiliki PBG umumnya lebih dipercaya dalam transaksi jual beli maupun penyewaan properti.

5. Bagaimana proses mengurus PBG?

Ilustrasi mengurus PBG (pexels.com/Alexander Suhorucov)

Saat ini pengurusan PBG dilakukan secara digital melalui sistem pemerintah, sehingga prosesnya lebih transparan dibandingkan sistem lama.

Secara umum, prosesnya meliputi beberapa tahap penting.

Pertama, pemilik bangunan menyusun dokumen rencana teknis yang berisi gambar desain, data bangunan, serta perhitungan teknis struktur. Dokumen ini kemudian diajukan melalui SIMBG untuk perorangan atau melalui Online Single Submission (OSS) bagi pelaku usaha.

Selanjutnya, tim teknis pemerintah akan melakukan pemeriksaan pemenuhan standar teknis. Pemeriksaan mencakup aspek arsitektur, struktur bangunan, hingga sistem mekanikal dan elektrikal.

Jika dinyatakan memenuhi standar, pemerintah menetapkan nilai retribusi daerah. Setelah pembayaran dilakukan dan diverifikasi, dokumen PBG diterbitkan secara digital dan pembangunan baru dapat dimulai.

6. Apa risiko jika bangunan tidak memiliki PBG?

ilustrasi bangunan roboh pasca gempa (pexels.com/Sanej Prasad Suwal)

Membangun tanpa PBG dapat menimbulkan konsekuensi hukum yang cukup serius.

Pemilik bangunan dapat dikenai sanksi administratif berupa:

  • peringatan tertulis,

  • pembatasan atau penghentian pembangunan,

  • pembekuan izin,

  • hingga perintah pembongkaran bangunan.

Dalam kondisi tertentu, sanksi pidana juga dapat dikenakan apabila bangunan tanpa PBG menyebabkan kerugian harta benda, kecelakaan, bahkan hilangnya nyawa orang lain, sebagaimana diatur dalam perubahan UU Bangunan Gedung melalui regulasi Cipta Kerja.

Selain risiko hukum, bangunan tanpa PBG biasanya sulit dijual, disewakan, atau digunakan sebagai jaminan pembiayaan karena status legalitasnya tidak jelas.

Perubahan dari IMB ke Persetujuan Bangunan Gedung menunjukkan arah baru sistem pembangunan di Indonesia yang lebih terencana dan berbasis standar teknis. Dengan memahami apa itu PBG, masyarakat tidak hanya memenuhi kewajiban hukum, tetapi juga memastikan bangunan yang dimiliki aman, bernilai, dan berkelanjutan.

Memahami apa itu PBG sejak awal membantu pemilik bangunan menghindari sanksi sekaligus memastikan proses pembangunan berjalan sesuai aturan yang berlaku.

FAQ Seputar PBG

Apakah PBG sama dengan IMB?

Tidak. IMB sudah dihapus dan diganti PBG yang berfokus pada standar teknis bangunan.

Apakah renovasi rumah membutuhkan PBG?

Ya, jika renovasi mengubah struktur atau fungsi bangunan.

Di mana bisa melakukan pengajuan PBG?

Melalui SIMBG untuk individu dan OSS untuk pelaku usaha.

Apa akibat jika tidak memiliki PBG?

Bisa dikenai sanksi administratif hingga pembongkaran bangunan.

Editorial Team