ilustrasi memegang uang (pexels.com/Karolina Grabowska)
Sebenarnya biaya hidup itu tidak mahal, yang menghabiskan biaya hanya gengsinya. Tentu kita sudah mendengar pernyataan tersebut berulang kali. Bahkan tanpa sadar turut menggunakan dana darurat hanya sekadar untuk menuruti gengsi.
Perilaku seperti ini jika dibiarkan berlanjut pasti akan merugikan diri sendiri. Salah satu aturan penting yang harus dijalankan yaitu hindari menggunakan dana darurat untuk memenuhi gengsi. Sebagaimana yang kita tahu, ada hal yang lebih penting dan mendesak daripada sekadar menuruti gaya hidup gengsi.
Mengelola dana darurat memang tidak bisa asal-asalan. Agar dana darurat tidak carut-marut, patuhi lima aturan di atas, ya!
Kapan waktu yang tepat untuk menggunakan dana darurat? | Dana darurat sebaiknya digunakan hanya pada situasi darurat yang benar-benar mendesak, seperti kehilangan pekerjaan, biaya medis tak terduga, atau kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda. |
Apakah boleh memakai dana darurat untuk liburan atau belanja? | Tidak. Dana darurat tidak dianjurkan untuk kebutuhan bukan darurat, seperti liburan, gadget baru, atau belanja impulsif, karena itu akan mengurangi kemampuanmu menghadapi kejadian tak terduga. |
Haruskah mengembalikan dana darurat setelah dipakai? | Ya. Setelah digunakan, prioritaskan untuk mengisi kembali dana darurat agar cadangan finansialmu tetap siap menghadapi kejadian berikutnya. |
Apakah dana darurat bisa dipakai untuk investasi? | Tidak. Dana darurat sebaiknya tidak dipakai untuk investasi atau spekulasi, karena tujuannya adalah menjaga stabilitas saat krisis, bukan mencari keuntungan. |
Berapa idealnya jumlah dana darurat? | Idealnya dana darurat setara dengan 3–6 bulan biaya hidup, atau lebih jika kamu punya tanggungan atau kondisi pekerjaan yang tidak stabil. |