Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Beli Rumah Lebih Awal atau Menunggu Mapan? Ini Plus Minusnya
ilustrasi beli rumah (unsplash.com/Jakub Żerdzicki)
  • Membeli rumah sejak muda memberi peluang membangun aset lebih cepat dan menikmati harga properti yang masih relatif rendah, meski risikonya ada pada fleksibilitas mobilitas dan kestabilan finansial.
  • Menunda membeli hingga kondisi mapan membuat keuangan lebih stabil dan peluang KPR lebih baik, namun waktu membangun ekuitas jadi lebih singkat serta harga rumah bisa semakin tinggi.
  • Waktu terbaik membeli rumah tidak ditentukan usia, melainkan kesiapan finansial, rencana hidup jangka panjang, dan kemampuan mengelola tanggung jawab sebagai pemilik rumah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Membeli rumah sering jadi salah satu target finansial terbesar dalam hidup. Banyak orang bertanya-tanya, sebenarnya lebih baik beli rumah sejak muda atau menunggu sampai kondisi benar-benar mapan?

Pertanyaan ini wajar banget, apalagi harga rumah terus naik dari tahun ke tahun. Di sisi lain, cicilan rumah juga bukan keputusan kecil karena bisa berjalan belasan hingga puluhan tahun.

Jadi, sebelum buru-buru mengambil keputusan, kamu perlu melihat plus minusnya dari dua pilihan ini. Supaya gak salah langkah, yuk pahami dulu mana yang paling cocok dengan kondisi hidupmu saat ini.

1. Beli rumah lebih awal memberi kesempatan membangun aset lebih cepat

ilustrasi perumahan (unsplash.com/Micah Carlson)

Membeli rumah saat usia masih muda bisa memberi keuntungan besar dari sisi aset. Kamu punya waktu lebih panjang untuk membangun ekuitas rumah, yaitu selisih antara nilai rumah dengan sisa cicilan yang masih harus dibayar. Semakin lama rumah dimiliki, biasanya semakin besar nilai aset yang terkumpul.

Selain itu, harga properti cenderung naik dari waktu ke waktu. Membeli lebih awal membuatmu berpeluang mendapatkan harga yang lebih rendah dibanding beberapa tahun ke depan. Kalau rumah itu ditempati dalam jangka panjang, kamu juga bisa menyelesaikan cicilan sebelum masa pensiun tiba.

2. Cicilan tetap bisa lebih aman dibanding sewa yang terus naik

ilustrasi budgeting (vecteezy.com/Suriyawut Suriya)

Kalau kamu masih menyewa, kenaikan harga kontrakan atau apartemen bisa terjadi hampir setiap tahun. Situasi ini sering bikin pengeluaran bulanan sulit diprediksi, apalagi kalau lokasi tempat tinggal berada di area yang terus berkembang. Akibatnya, biaya hunian bisa terasa makin berat dari waktu ke waktu.

Berbeda dengan rumah sendiri yang menggunakan kredit pemilikan rumah dengan bunga tetap, cicilan bulanan cenderung lebih stabil. Meski masih ada biaya lain seperti pajak dan perawatan, setidaknya kamu punya gambaran yang lebih jelas soal pengeluaran rutin. Kondisi ini bisa membantumu mengatur keuangan dengan lebih tenang.

3. Membeli saat masih muda juga punya risiko fleksibilitas yang lebih sempit

ilustrasi koper bagasi atas (pexels.com/Pew Nguyen)

Punya rumah sendiri memang menyenangkan, tapi ada konsekuensi soal mobilitas. Saat masih muda, peluang kerja sering datang dari berbagai kota bahkan negara. Kalau sudah terikat rumah dan cicilan, keputusan pindah kerja bisa jadi lebih rumit.

Menjual rumah dalam waktu singkat juga gak selalu gampang. Ada biaya tambahan seperti pajak, biaya notaris, hingga kemungkinan harga jual belum sesuai harapan. Karena itu, membeli rumah terlalu cepat tanpa rencana jangka panjang bisa menjadi beban, bukan keuntungan.

4. Menunggu mapan memberi peluang kondisi finansial lebih stabil

ilustrasi DP rumah (unsplash.com/Artful Homes)

Saat usia bertambah, biasanya kondisi keuangan juga ikut lebih matang. Penghasilan cenderung meningkat, tabungan lebih banyak, dan riwayat kredit pun lebih baik. Hal ini membuat peluang mendapat persetujuan KPR dengan bunga yang lebih bagus jadi lebih besar.

Menurut National Association of REALTORS®, rata-rata pembeli rumah pertama di Amerika pada tahun 2024 mencapai usia 38 tahun. Angka ini menjadi rekor tertinggi dan menunjukkan bahwa banyak orang kini memilih menunda membeli rumah karena harga properti yang melonjak serta beban utang pendidikan. Banyak juga yang lebih fokus pada karier dan pengembangan diri sebelum membeli rumah.

5. Menunggu lebih lama bisa membuat kesempatan ekuitas berkurang

ilustrasi perumahan (pexels.com/The Lazy Artist Gallery)

Meski finansial lebih stabil, membeli rumah saat usia lebih tua juga punya kekurangan. Kamu memiliki waktu yang lebih pendek untuk membangun ekuitas dari properti tersebut. Padahal, kenaikan nilai rumah bisa menjadi salah satu sumber kekayaan jangka panjang yang cukup besar.

Semakin lama menunda, kemungkinan harga rumah juga semakin tinggi. Uang muka yang dulu terasa cukup bisa jadi gak lagi memadai beberapa tahun kemudian. Akibatnya, kamu justru harus menyiapkan dana lebih besar untuk rumah yang sama.

6. Cicilan saat mendekati pensiun perlu dipikirkan matang-matang

ilustrasi pensiun (freepik.com/Lifestylememory)

Membeli rumah di usia yang lebih matang kadang berarti cicilan masih berjalan saat kamu memasuki masa pensiun. Ini perlu perhatian khusus karena pendapatan setelah pensiun biasanya mengalami penurunan. Kalau cicilan masih besar, kondisi keuangan bisa terasa cukup berat.

Selain itu, faktor kesehatan dan kebutuhan hidup juga berubah seiring bertambahnya usia. Rumah yang dulu terasa ideal belum tentu tetap nyaman di masa depan. Karena itu, membeli rumah saat lebih tua perlu perhitungan yang lebih detail supaya gak menjadi tekanan finansial baru.

7. Waktu terbaik membeli rumah sebenarnya bukan soal umur

ilustrasi rileks, santai di rumah (pexels.com/Jack Sparrow)

Banyak orang fokus pada usia ideal, padahal yang paling penting justru kesiapan finansial dan rencana hidupmu. Usia 25 belum tentu terlalu muda, dan usia 40 juga belum tentu terlambat. Semua kembali pada kemampuanmu mengelola tanggung jawab sebagai pemilik rumah.

Coba tanyakan pada diri sendiri, apakah kamu sudah punya dana darurat, uang muka yang cukup, serta kemampuan membayar cicilan dengan nyaman? Apakah kamu berencana tinggal lama di lokasi tersebut? Kalau sebagian besar jawabannya iya, itu bisa jadi tanda bahwa kamu memang sudah siap membeli rumah.

Beli rumah lebih awal maupun menunggu sampai mapan sama-sama punya kelebihan dan kekurangan. Membeli saat masih muda memberi kesempatan membangun aset lebih cepat, tapi risikonya ada pada fleksibilitas dan kestabilan finansial. Sementara itu, membeli saat usia lebih matang menawarkan rasa aman secara ekonomi, meski peluang pertumbuhan aset jadi lebih pendek.

Jadi, keputusan terbaik bukan soal ikut tren atau tekanan sosial. Fokuslah pada kondisi keuangan, tujuan hidup, dan kesiapan mentalmu sendiri. Rumah adalah keputusan besar, jadi pastikan kamu memilih waktu yang tepat berdasarkan kebutuhan nyata, ya, bukan sekadar karena merasa harus segera punya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team