Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Berapa Rasio Cicilan Utang yang Aman dari Gaji? Ini Batas Idealnya
ilustrasi menghitung utang (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
  • Rasio cicilan utang yang ideal berkisar antara 30–35% dari gaji agar kondisi keuangan tetap stabil dan tidak membebani kemampuan bayar bulanan.
  • Debt Service Ratio (DSR) digunakan untuk mengukur porsi pendapatan bersih yang dialokasikan untuk cicilan, sementara Debt Burden Ratio (DBR) menilai total beban utang terhadap penghasilan.
  • Menurunkan rasio cicilan dapat dilakukan dengan melunasi utang berbunga tinggi terlebih dahulu, menghindari pinjaman baru, serta menerapkan prinsip pengelolaan keuangan 50/30/20.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Berapa rasio cicilan utang yang aman dari gaji? Idealnya, rasio cicilan utang yang aman adalah 30–35 persen dari gaji yang kamu peroleh setiap bulannya agar kondisi keuanganmu tetap seimbang dan sehat.

Salah satu cara untuk menilai kesehatan utang adalah melalui Debt Service Ratio yang membantu melihat seberapa besar porsi penghasilan yang digunakan untuk membayar utang. Jadi, apa sebenarnya rasio cicilan utang itu? Simak penjelasannya berikut ini!

1. Apa itu rasio cicilan utang (Debt Service Ratio/DSR)

ilustrasi menganalisis utang (pexels.com/RDNE Stock project)

DSR (Debt Service Ratio) adalah rasio perbandingan antara jumlah cicilan per bulan dengan pendapatan bersih bulanan yang kamu terima. Rasio ini membantu kamu untuk melihat tingkat beban utang yang perlu kamu tanggung.

Sementara itu, DBR (Debt Burden Ratio) adalah perbandingan antara jumlah cicilan secara keseluruhan dengan pendapatan bersih bulanan. Indikator ini biasanya digunakan oleh bank saat menilai pengajuan KPR.

Perbedaan antara DSR dan DBR terdapat dalam fokus penilaiannya. DSR mengukur kemampuanmu dalam membayar utang tertentu, seperti cicilan mobil atau pinjaman pribadi, sedangkan DBR menilai kemampuanmu dalam membayar seluruh utang jika dibandingkan dengan penghasilan bulanan.

Dalam praktiknya, bank biasanya menggunakan perhitungan DSR untuk menilai kemampuanmu membayar pinjaman berdasarkan penghasilan. Dengan begitu, baik kamu maupun bank bisa mengetahui batas cicilan yang aman untuk ditanggung.

2. Berapa persen cicilan utang yang aman dari gaji?

ilustrasi kalkulator (pexels.com/Olia Danilevich)

Dilansir OCBC NISP, berdasarkan prinsip perencanaan keuangan, DSR yang sehat umumnya berkisar antara 30–35 persen dari total penghasilan. Artinya, jika rasio DSR seseorang melebihi batas ini, perlu berhati-hati karena beban utang menjadi lebih tinggi dan ada risiko kesulitan melunasi utang tepat waktu.

Agar lebih mudah dipahami, rasio DSR biasanya dibagi menjadi beberapa tingkatan sebagai berikut:

Tingkatan DSR

Kategori

Rasio Utang terhadap Pendapatan

A

Kurang dari 30%

B

30% – 35%

C

35% – 40%

D

Lebih dari 40%

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa rasio DSR yang melebihi 40% adalah persentase paling berisiko sulit melunasi utang.

Tingkatan persentase DSR

3. Cara menghitung rasio cicilan utang dari gaji

ilustrasi perhitungan utang (pexels.com/RDNE Stock project)

Perhitungan DSR terbilang cukup sederhana. Rumus DSR hanya membutuhkan dua komponen utama, yaitu total cicilan utang per bulan dan pendapatan bersih per bulan. Berikut ini penjelasan rumus:

DSR = (Total Cicilan Utang per Bulan / Pendapatan Bersih per Bulan) x 100%

Contohnya:

Misalnya, kamu memiliki pendapatan bersih sebesar Rp10 juta per bulan dan total cicilan utang Rp3 juta, maka perhitungannya sebagai berikut:

DSR = (Total cicilan utang / Pendapatan bersih) × 100%

DSR = (Rp3 juta / Rp10 juta) × 100%

DSR = 30%

Artinya, kamu menggunakan 30% dari penghasilanmu untuk membayar cicilan. Jika batas maksimal DSR adalah 40%, maka rasiomu ini termasuk sehat, dan kamu kemungkinan besar memenuhi syarat untuk mendapatkan pinjaman.

4. Tanda-tanda rasio cicilanmu sudah terlalu tinggi

ilustrasi menhitung (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Membayar cicilan merupakan bagian dari kehidupan finansial, tapi kalau tidak hati-hati, utang bisa bikin pusing sendiri. Yuk, kenali tanda-tanda cicilanmu mulai membebani keuanganmu.

  1. Cicilanmu memakan lebih dari 30-35 persen gaji: Seperti yang telah dipelajari di atas, rasio cicilan utang yang aman berkisar di angka 30-35 persen, sehingga lebih dari itu kamu akan sulit melunasi utang.

  2. Kesulitan untuk menabung: Cicilan yang terlalu tinggi membuatmu sulit menabung karena kamu menggunakan hampir seluruh gajimu untuk membayar cicilan per bulan.

  3. Gali lubang tutup lubang: Jika kamu harus melakukan pinjaman baru untuk membayar tagihan sebelumnya, maka cicilanmu berpotensi mengalami penumpukan.

  4. Rasa cemas yang datang ketika jatuh tempo: Apabila kamu mulai merasa cemas berlebihan saat mengangkat telepon dari nomor tidak dikenal saat tanggal jatuh tempo mendekat, itu merupakan sinyal bahwa beban cicilanmu sudah di luar kendali finansialmu.

Cara menurunkan rasio cicilan agar keuangan kembali sehat

Mengelola cicilan penting dilakukan agar rasio cicilanmu dapat kembali sehat. Dengan langkah-langkah ini, kamu bisa lebih tenang mengatur keuanganmu.

  1. Mulailah memprioritaskan pembayaran cicilan yang memiliki bunga tinggi terlebih dahulu agar bunga yang kamu terima tidak semakin meningkat.

  2. Hindari melakukan pembelian dan pengajuan cicilan baru dengan harga yang tinggi, seperti pembelian mobil, rumah, maupun barang konsumtif lainnya.

  3. Buatlah reminder khusus agar kamu ingat untuk membayar cicilan per bulan supaya kamu terhindar dari denda keterlambatan pembayaran utang.

  4. Cobalah untuk membuat pembukuan sederhana dengan melakukan pencatatan pendapatan bersih dan pengeluaran setiap bulannya, dengan begitu nantinya kamu bisa melakukan penghematan.

5. Mengatur cicilan dengan prinsip 50/30/20

ilustrasi membayar hutang (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Prinsip 50/30/20 membagi pendapatanmu ke dalam tiga bagian, yaitu untuk kebutuhan, keinginan, dan tabungan atau pembayaran utang. Angka 50, 30, dan 20 menunjukkan persentase penghasilan yang dialokasikan ke masing-masing kategori. Yuk, simak pembagiannya!

  • 50 persen dari penghasilan sebaiknya kamu alokasikan untuk kebutuhan pokok, seperti biaya sewa atau cicilan rumah, belanja bahan makanan, dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

  • 30 persen dapat kamu gunakan untuk keinginan atau gaya hidup, mulai dari liburan, hangout, hingga hal-hal kecil seperti biaya langganan streaming.

  • 20 persen dapat kamu alokasikan pada masa depan atau utang, yang mencakup tabungan dan investasi atau kartu kredit.

Itulah penjelasan tentang rasio cicilan utang yang aman dari gaji. Dengan menjaga cicilanmu di rasio 30–35 persen dan menerapkan prinsip 50/30/20, keuanganmu akan tetap sehat dan kamu pun bisa menabung.

Editorial Team