Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi inflasi (vecteezy.com/Khunkorn Laowisit)
ilustrasi inflasi (vecteezy.com/Khunkorn Laowisit)

Intinya sih...

  • Ekonom Celios memproyeksikan inflasi Ramadan dan Lebaran 2026 lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, dipicu lonjakan harga pangan dan energi.

  • Harga komoditas pangan seperti daging ayam, telur, cabai, dan bahan pokok lain berpotensi naik karena distribusi belum optimal dan gangguan impor.

  • Pemerintah perlu bergerak cepat mengantisipasi lonjakan harga pangan dengan pengamanan stok melalui operasi pasar serta menjaga stabilitas harga melalui kebijakan moneter, fiskal, dan sektoral.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda, memproyeksikan inflasi pada Ramadan dan Lebaran 2026 akan lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Lonjakan harga pangan dan energi menjadi faktor utama yang mendorong tekanan harga.

Pada Ramadan 2025 yang dimulai 1 Maret, inflasi tercatat 1,65 persen secara bulanan (mtm) dan 1,03 persen secara tahunan (yoy). Angka tersebut relatif rendah karena dipengaruhi diskon tarif listrik.

"Melihat kondisi tahun lalu yang rendah karena faktor diskon listrik, tampaknya inflasi tahun ini akan cukup tinggi, dipengaruhi harga energi," ujar Huda kepada IDN Times, Selasa (17/2/2026).

1. Komoditas daging ayam, telur hingga cabai berpotensi naik

Harga cabai di pasar tradisional Bantul naik tajam. IDN Times/Daruwaskita

Selain energi, harga komoditas pangan diperkirakan terkerek naik. Daging ayam, telur, cabai, dan sejumlah bahan pokok lain berpotensi mengalami kenaikan signifikan menjelang Ramadan. Huda menjelaskan, ada dua pemicu utama. Pertama, distribusi pangan pada awal tahun kerap belum optimal.

"Tapi komoditas barang bergejolak juga akan mengalami kenaikan, tapi karena stok pangan akan berebutan dengan program pemerintah (MBG). Sedangkan pada awal tahun biasanya program pemerintah belum siap. Ini menyebabkan adanya ketidakseimbangan antara permintaan yang melonjak, terutama menjelang Ramadan, dan ketersediaan pasokan,” ujar Nailul Huda.

Lonjakan konsumsi jelang Ramadan membuat tekanan harga semakin sulit dihindari.

2. Cuaca buruk dan impor tersendat

Petani sedang memanen tanaman cabai.(IDN Times/Daruwaskita)

Faktor cuaca juga menjadi risiko serius, terutama bagi komoditas hortikultura seperti cabai. Cuaca ekstrem dapat memicu gagal panen dan mengganggu pasokan.

Gangguan impor di awal tahun turut mempersempit ruang stabilisasi harga. Distribusi yang tidak lancar dan volume impor terbatas berpotensi memperparah kondisi pasar.

"Pangan seperti daging ayam dan telur ayam harus diwaspadai kenaikannya. Begitu juga dengan cabai ketika cuaca tidak mendukung," bebernya.

3. Pemerintah harus segera antisipasi potensi lonjakan harga pangan

Ilustrasi Pedagang cabai merah (ANTARA FOTO/Ampelsa)

Huda menilai pemerintah perlu bergerak cepat mengantisipasi potensi lonjakan harga pangan. Menurutnya, operasi pasar harus diperluas untuk menstabilkan harga pangan

Selain itu, pengamanan stok pangan seperti telur, daging ayam, dan cabai perlu menjadi perhatian agar harga tetap terjangkau bagi masyarakat.

"Langkah pemerintah seharusnya fokus pada pengelolaan stok melalui operasi pasar. Pengamanan stok telur ayam dan daging ayam harus dilakukan. Begitu juga dengan bumbu dapur seperti cabai yang perlu diantisipasi. Implementasi neraca komoditas menjadi sangat penting, karena pemenuhan stok adalah hal yang utama," ujarnya.

Pemerintah dan Bank Indonesia saat ini menjaga stabilitas harga melalui bauran kebijakan moneter, fiskal, dan sektoral dengan strategi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Pada Januari 2026, inflasi tercatat 3,55 persen (yoy), sedikit di atas target 2,5±1 persen. Kenaikan ini dipengaruhi efek basis rendah akibat diskon tarif listrik 50 persen pada Januari–Februari 2025. Meski demikian, inflasi pangan bergejolak masih terkendali di level 1,14 persen (yoy) dan turun 1,96 persen secara bulanan (mtm).

Editorial Team