ilustrasi saham dividen (unsplash.com/Sajad Nori)
Pemain lama biasanya cenderung diam dan lebih hati-hati karena mereka sudah pernah merasakan pahitnya kehilangan aset dalam jumlah besar saat pasar jatuh atau crash. Sementara itu, pemula yang baru masuk saat kondisi ekonomi stabil merasa bahwa kenaikan harga adalah hal yang pasti terjadi setiap hari tanpa ada celah kegagalan. Mereka belum pernah merasakan bagaimana rasanya melihat portofolio berkurang puluhan persen dalam semalam tanpa ada tanda-tanda pemulihan dalam waktu dekat.
Sifat jumawa ini biasanya bertahan sampai mereka benar-benar merasakan "nyangkut" atau terjebak memiliki saham di harga pucuk dalam waktu yang sangat lama tanpa bisa menjualnya. Tanpa adanya pengalaman pahit yang mendewasakan, mereka akan terus merasa bahwa setiap prediksi yang mereka buat tidak mungkin meleset dari kenyataan pasar. Jam terbang tidak bisa dibohongi, dan mereka yang meremehkan pasar biasanya akan dipaksa belajar melalui kerugian finansial yang nyata. Pengalaman adalah guru terbaik yang akan mengajarkan bahwa kerendahan hati adalah aset paling berharga dalam dunia investasi.
Pada akhirnya, pasar modal selalu punya cara sendiri untuk mendewasakan siapa pun yang bermain di dalamnya dengan cara yang terkadang sangat keras. Karakter investor pemula sering terlihat paling paham semuanya memanglah hak setiap orang, tetapi memiliki kerendahan hati untuk terus belajar adalah kunci utama agar aset yang dikumpulkan tidak habis dalam sekejap. Jadi, apakah kamu termasuk orang yang lebih memilih diam mengamati pergerakan pasar atau justru yang paling rajin membagikan “edukasi” lewat Instagram atau story WhatsApp?