Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jangan Kasih Diskon Sebelum Baca Ini atau Bisnis Ramadanmu Bakal Mati!
ilustrasi bisnis daging (pexels.com/Garrison Gao)
  • Artikel menyoroti risiko memberi diskon tanpa perhitungan matang saat Ramadan, yang bisa menggerus margin dan membuat bisnis kesulitan setelah musim ramai berakhir.
  • Ditekankan pentingnya memahami margin bersih, menghitung seluruh biaya operasional, serta mencari alternatif seperti bundling atau layanan bernilai tambah agar keuntungan tetap terjaga.
  • Pelaku usaha diingatkan menyiapkan strategi pasca-Ramadan dan menjaga persepsi brand agar tidak rusak akibat perang harga yang berlebihan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ramadan selalu identik dengan promo dan diskon besar-besaran. Banyak pelaku usaha merasa wajib ikut perang harga demi menjaga penjualan tetap ramai. Padahal, keputusan memberi diskon tanpa perhitungan matang bisa jadi bumerang.

Tidak sedikit bisnis yang terlihat laris selama Ramadan, tapi ternyata marginnya terkikis habis. Setelah Lebaran, stok menipis, kas seret, dan keuntungan nyaris tidak ada. Sebelum asal potong harga, ada beberapa hal penting yang wajib kamu pahami.

1. Diskon bukan satu-satunya cara menarik pembeli

ilustrasi antri belanja (pexels.com/David Yu)

Banyak orang mengira pelanggan hanya tertarik pada harga murah. Padahal saat Ramadan, pembeli juga mencari kemudahan, kecepatan layanan, dan kepercayaan. Nilai tambah sering kali lebih kuat daripada sekadar potongan harga.

Kamu bisa menawarkan bonus kecil, kemasan eksklusif, atau layanan pengiriman cepat sebagai daya tarik. Strategi ini menjaga persepsi premium tanpa merusak margin. Dengan begitu, brand tetap kuat meski tanpa diskon besar.

2. Hitung margin sebelum potong harga

ilustrasi catat setiap pengeluaran (pexels.com/tima)

Sebelum memberi diskon, pastikan kamu tahu margin bersih per produk. Jangan hanya melihat selisih harga jual dan modal bahan baku. Biaya operasional, iklan, komisi marketplace, dan ongkir juga harus masuk hitungan.

Jika diskon terlalu dalam, volume tinggi justru memperbesar kerugian. Banyak bisnis terjebak euforia order masuk tanpa sadar margin sudah tipis. Diskon yang sehat adalah yang tetap menyisakan keuntungan layak.

3. Diskon berlebihan bisa merusak persepsi brand

ilustrasi promo akhir tahun (pexels.com/Max Fischer)

Terlalu sering memberi potongan harga membuat pelanggan terbiasa menunggu promo. Akibatnya, mereka enggan membeli di harga normal. Ini bisa membuat brand sulit kembali ke positioning awal.

Selain itu, perang harga juga memicu kompetitor ikut banting harga. Lingkaran ini berbahaya karena margin semua pemain jadi tertekan. Dalam jangka panjang, bisnis bisa kehabisan napas.

4. Gunakan strategi bundling, bukan banting harga

ilustrasi belanja (pexels.com/Jack Sparrow)

Alih-alih memotong harga satu produk, coba buat paket bundling. Dengan cara ini, nilai transaksi naik tanpa harus memangkas margin terlalu dalam. Pelanggan tetap merasa dapat keuntungan lebih.

Bundling juga membantu menghabiskan stok produk yang pergerakannya lambat. Strategi ini lebih cerdas dibanding diskon besar pada satu item. Hasilnya, omzet naik dan margin tetap terjaga.

5. Siapkan strategi pasca-Ramadan

ilustrasi bisnis franchise (pexels.com/James Frid)

Lonjakan penjualan saat Ramadan sering membuat pelaku usaha lupa memikirkan bulan berikutnya. Jika semua margin dihabiskan untuk promo, bisnis bisa goyah setelah musim ramai berakhir. Perencanaan jangka menengah sangat penting.

Sisihkan sebagian keuntungan untuk menjaga arus kas setelah Lebaran. Evaluasi performa promo dengan data, bukan perasaan. Dengan begitu, kamu bisa menentukan strategi yang lebih sehat untuk periode berikutnya.

Diskon memang ampuh menarik perhatian, tetapi bukan solusi instan tanpa risiko. Tanpa perhitungan dan strategi yang tepat, potongan harga bisa menggerus keuntungan hingga bisnis sulit bertahan. Ramadan seharusnya jadi momen memperkuat fondasi usaha, bukan sekadar mengejar angka penjualan.

Sebelum memberi diskon, pastikan kamu memahami margin, biaya, dan dampak jangka panjangnya. Fokus pada nilai, pelayanan, dan strategi cerdas agar bisnis tetap hidup setelah euforia berlalu. Karena bertahan lama jauh lebih penting daripada sekadar ramai sesaat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team