Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi mencatat utang
ilustrasi mencatat utang (freepik.com/rawpixel.com)

Intinya sih...

  • Utang bisa menjadi pilihan jika digunakan untuk kebutuhan produktif, darurat, atau aset jangka panjang yang masuk akal.

  • Utang perlu disertai rencana pelunasan yang jelas dan perhitungan kemampuan bayar yang realistis.

  • Dalam keuangan keluarga, utang harus menjadi keputusan bersama suami dan istri agar tidak memicu konflik.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Hidup tanpa utang tentu menjadi impian semua orang. Idealnya, semua kebutuhan bisa dipenuhi dari penghasilan sendiri. Namun, dalam keuangan keluarga, utang kadang tidak bisa dihindari. Bukan karena gaya hidup hedon, tapi alasannya karena pada situasi tertentu, utang justru bisa jadi alat bantu.

Pertanyaannya, kapan sebenarnya utang itu dibolehkan dalam keuangan keluarga? Jawabannya tidak hitam putih. Utang bisa jadi solusi, tapi bisa juga jadi sumber masalah, tergantung tujuan, cara, dan kemampuanmu mengelolanya. Berikut beberapa kondisi saat utang masih bisa dibilang aman dan masuk akal dalam konteks keuangan rumah tangga.

1. Saat utang digunakan untuk kebutuhan produktif

ilustrasi perempuan sedang memikirkan ide bisnis (freepik.com/marymarkevich)

Utang boleh dipertimbangkan jika tujuannya produktif, bukan konsumtif. Produktif artinya utang tersebut bisa membantu meningkatkan penghasilan atau kualitas hidup jangka panjang. Sebagai contoh, utang berguna sebagai modal untuk buka usaha kecil-kecilan, kredit kendaraan untuk ojek, atau biaya pendidikan yang menunjang karier. Selama utang itu berpotensi menghasilkan uang atau membuka peluang lebih besar pada masa mendatang, risikonya relatif lebih masuk akal dibanding utang untuk hal-hal yang cepat habis nilainya, seperti beli gawai mahal cuma karena FOMO.

2. Saat utang dipakai untuk kebutuhan mendesak dan darurat

ilustrasi seseorang sedang dirawat di rumah sakit (unsplash.com/Stephen Andrews)

Dalam kondisi darurat, utang bisa jadi satu-satunya jalan, misalnya untuk biaya berobat, renovasi rumah yang rusak parah, dan kebutuhan penting yang tidak bisa ditunda. Yang penting, utang darurat tetap harus dihitung dengan kepala dingin. Jangan asal ambil pinjaman tanpa tahu bagaimana cara mengembalikannya. Ingat, darurat bukan berarti bebas mikir.

Idealnya, keluarga punya dana darurat. Namun, kalau belum punya dan situasinya mepet, utang masih bisa ditoleransi asal ada rencana pelunasannya. Ini juga bisa jadi pengingat akan pentingnya memiliki dana darurat.

3. Saat utang dipakai untuk membeli aset yang nilainya bertahan

ilustrasi rumah (pexels.com/Kindel Media)

Utang untuk membeli aset jangka panjang masih bisa dipahami, contohnya membeli rumah, tanah, dan kendaraan untuk bekerja. Aset ini nilainya relatif bertahan atau bahkan naik. Ini berbeda dengan utang untuk membeli barang yang cepat turun harga, seperti gawai atau barang fashion mahal.

Namun, kamu perlu ingat bahwa harga rumah atau mobil bukan cuma soal cicilan, tapi juga biaya perawatan, pajak, dan asuransi. Jadi, sebelum ambil utang, hitung semua biaya yang menyertainya. Jangan sampai setelah beli aset dengan cara berutang, tapi malah dibiarkan terbengkalai dan tidak dirawat dengan benar.

4. Saat ada rencana pelunasan yang jelas

ilustrasi negosiasi dengan pemberi utang (freepik.com/Drazen Zigic)

Utang itu bukan soal bisa bayar sekarang atau tidak, tapi soal punya rencana melunasi atau tidak. Secara umum, utang itu diperbolehkan asal kamu tahu kapan mulai mencicil, tahu dari pos mana uangnya, dan tahu kapan target lunas. Tanpa rencana, utang hanya akan jadi bom waktu. Awalnya mungkin sedikit, tapi lama-lama akan menumpuk. Jadi, coba buat hitung-hitungan antara penghasilan, kebutuhan, dan cicilan. Kalau hasilnya mepet atau bahkan minus, artinya kamu harus pikir-pikir ulang soal utang.

5. Saat ada kesepakatan antara suami dan istri

ilustrasi pasangan suami istri sedang membahas soal uang (freepik.com/jcomp)

Dalam rumah tangga, utang bukan urusan satu orang. Itu harus dibicarakan berdua. Suami dan istri harus sepakat soal jumlah utang, tujuannya apa, dan cara bayarnya bagaimana.

Utang yang disembunyikan justru sering jadi sumber konflik. Ini bukan cuma soal uang, melainkan soal rasa percaya. Kalau suami dan istri satu suara, beban utang jadi terasa lebih ringan karena dijalani bersama, bukan sendirian.

Akhir kata, tidak apa-apa punya utang asal bikin hidup lebih maju, bukan makin sesak. Kalau utang membuat tidur tidak nyenyak, deg-degan tiap bulan, dan ribut sama pasangan, artinya utang ini tidak sehat. Jadi, sebelum tanda tangan pinjaman apa pun, tanya dulu ke diri sendiri dan pasangan, “Ini utang untuk bantu hidup kita atau untuk memuaskan keinginan sesaat?”

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎