Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi wanita bahagia belanja online (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi wanita bahagia belanja online (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Intinya sih...

  • Selalu mengandalkan paylater untuk belanja apapun, bahkan hal kecil

  • Jumlah cicilan aktif terus bertambah, membuat ruang finansial semakin sempit

  • Sering lupa atau menunda membayar tagihan, menandakan kontrol keuangan mulai melemah

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Paylater memang terasa membantu, apalagi saat kebutuhan datang di waktu yang tidak terduga. Sekali klik, barang impian langsung di tangan tanpa perlu keluar uang saat itu juga. Tapi, pernahkah kamu berhenti sejenak dan bertanya, apakah penggunaan paylater masih aman untuk kondisi keuanganmu?

Banyak orang tidak sadar kalau paylater yang awalnya solusi justru berubah jadi kebiasaan yang sulit dihentikan. Tanpa disadari, cicilan menumpuk dan pengeluaran makin sulit dikontrol. Yuk, kenali tanda-tanda kecanduan paylater berikut ini sebelum terlambat!

1. Selalu mengandalkan paylater untuk belanja apapun

ilustrasi orang sedang belanja online (pexels.com/AS Photography)

Kamu mulai merasa paylater adalah pilihan utama setiap kali ingin belanja, bahkan untuk hal kecil. Membayar tunai terasa berat, padahal saldo masih tersedia. Kebiasaan ini bisa jadi sinyal awal ketergantungan paylater. Tanpa sadar, kamu jarang menghitung ulang apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan. Paylater membuat proses belanja terasa terlalu mudah dan instan. Akibatnya, pengeluaran pun semakin sulit dikendalikan.

2. Jumlah cicilan aktif terus bertambah

ilustrasi orang sedang belanja online (pexels.com/cottonbro studio)

Kamu memiliki lebih dari satu cicilan paylater yang berjalan dalam waktu bersamaan. Setiap bulan, sebagian besar gaji sudah dialokasikan untuk membayar tagihan. Kondisi ini membuat ruang finansialmu semakin sempit. Saat satu cicilan belum lunas, kamu sudah menambah cicilan baru. Pola ini bisa membuat keuangan terasa stagnan dan penuh tekanan. Jika dibiarkan, risiko gagal bayar pun semakin besar.

3. Sering lupa atau menunda membayar tagihan

ilustrasi orang sedang belanja online (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Kamu mulai lupa tanggal jatuh tempo atau sengaja menunda pembayaran paylater. Notifikasi tagihan sering diabaikan dengan alasan masih ada waktu. Padahal, denda dan bunga terus berjalan tanpa disadari. Kebiasaan ini menandakan kontrol keuangan mulai melemah. Paylater yang seharusnya membantu justru menjadi sumber masalah baru. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memengaruhi skor kreditmu.

4. Menggunakan paylater untuk menutup paylater lain

ilustrasi orang sedang belanja online (pexels.com/MART PRODUCTION)

Kamu pernah memakai paylater lain untuk membayar cicilan sebelumnya. Cara ini terasa seperti solusi cepat, padahal hanya memindahkan masalah. Beban utang tidak berkurang, justru semakin panjang. Pola gali lubang tutup lubang adalah tanda serius kecanduan paylater. Keuangan terlihat baik di permukaan, tapi rapuh di dalam. Jika terus berulang, kondisi finansial bisa sulit dipulihkan.

5. Merasa gelisah jika tidak bisa menggunakan paylater

ilustrasi orang sedang belanja online (pixabay.com/HutchRock)

Kamu merasa tidak nyaman atau gelisah saat limit paylater habis. Ada rasa takut tidak bisa belanja atau memenuhi keinginan. Paylater seolah menjadi penopang utama gaya hidup. Perasaan ini menunjukkan ketergantungan secara emosional. Paylater bukan lagi alat bantu, melainkan kebutuhan semu. Di titik ini, evaluasi penggunaan paylater menjadi sangat penting.

Mengenali tanda-tanda kecanduan paylater bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk membantu kamu lebih sadar dalam mengelola keuangan. Paylater tetap bisa digunakan asal dengan kontrol dan perencanaan yang tepat. Mulai sekarang, coba dengarkan kondisi dompetmu sebelum menekan tombol “bayar nanti”.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team