Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kisah Agnes: Pilih Digital Nomad untuk Menjaga Kesehatan Fisik-Mental
Agnes Friska Cyntia (Dok. IDN Times/Istimewa)

Jakarta, IDN Times – Pandemik COVID-19 telah mengubah berbagai aspek kehidupan. Salah satu yang paling terasa dampaknya adalah kebiasaan bekerja yang tidak harus dari kantor. Ada banyak istilah untuk menyebut fenomena itu, mulai dari bekerja dari mana saja (work from anywhere) atau digital nomad.

Digital nomad dapat dipahami sebagai seseorang yang memutuskan untuk bekerja secara lepas (freelance), tanpa terikat ruang dan waktu, serta menggantungkan diri pada kecanggihan teknologi. Sederhananya, seorang digital nomad bisa bekerja dari mana saja, tanpa harus ke kantor, dan kapan saja, tanpa absen pagi.

Ada berbagai macam bentuk pekerjaan dalam kategori digital nomad, seperti web programmer, admin, content creator, influencer, YouTuber, penulis, dan masih banyak lagi.  

1. Alasan resign dan memilih jadi digital nomad

Agnes Friska Cyntia (Dok. IDN Times/Istimewa)

Tren digital nomad digandrungi oleh millennial, yang cenderung tidak menyukai bekerja kantoran. Setidaknya, itulah alasan Agnes Friska Cyntia, remaja 27 tahun yang memilih resign dari kantor lamanya dan menjadi seorang digital nomad.

"Saat saya kerja kantoran, berkali-kali saya jatuh sakit karena pola hidup saya yang tidak teratur dan saya adalah seorang workaholic. Saya sering bekerja hingga larut malam, mengabaikan waktu makan, akibatnya beberapa kali saya dirawat di rumah sakit hingga harus melakukan operasi usus buntu,” kata Agnes.

“Di sana, saya menyadari bahwa saya perlu lebih memperhatikan kesehatan fisik maupun mental," tambah dia.

Agnes menegaskan bahwa dia tidak ingin masa mudanya habis di tengah hiruk-pikuk pekerjaan kantoran.

“Di saat orang berlomba-lomba menjalani hidup ala hustle culture, saya memilih menjadi seorang digital nomad. Sebuah sajak dari Seno Gumira Ajidarma menginspirasi saya untuk membangun bisnis dan sistem di perusahaan,” tutur dia.

2. Aktif sebagai influencer

Agnes Friska Cyntia (Dok. IDN Times/Istimewa)

Sejak 3 tahun terakhir, Agnes fokus menggeluti profesi digital nomad. Pada 2020, Agnes bergabung dengan sebuah PT Visuels Inspirasi Digispora atau Visuels.id. Perusahaan ini membantu para pemilik UMKM hingga korporasi untuk memanfaatkan teknologi digital seperti media sosial dan website, sebagai sarana promosi dan pembuatan konten.

Sebagai seorang co.founder & Chief Marketing Officer, Agnes juga membebaskan karyawannya untuk bekerja secara hybrid. Para karyawan bisa bekerja dari mana pun tanpa harus selalu datang ke kantor. 

Agnes juga aktif menjadi influencer bagi setidaknya 25 ribu followers Instagram-nya. Selain itu, Agnes kerap menjadi pembicara dan memberi pelatihan ke banyak UMKM untuk memanfaatkan teknologi secara optimal.  

“Saya bersyukur dapat menjadi seorang digital nomad,” kata dia, seraya menegaskan bahwa seorang digital nomad tetap memiliki tanggung jawab yang mengikat kepadanya.

3. Survei tentang tren WFA

Agnes Friska Cyntia (Dok. IDN Times/Istimewa)

Ada berbagai survei yang menunjukkan bahwa digital nomad akan semakin digemari di masa depan.

Jajak pendapat yang dilakukan EY ASEAN pada 2021 kepada 16 ribu responden di 16 negara menunjukkan bahwa 32 persen pekerja memilih untuk work from home (WFH) pascapandemik. Sementara itu, 29 persen responden memilih bekerja secara hybrid atau selang-seling WFH dan WFO, dan 29 persen yang memilih WFH penuh waktu.

Kemudian, survei Arkadia Works & VINOTI Office pada 2021 mendapati sekitar 75,5 persen responden ingin bekerja secara hybrid, sekitar 14 persen mengharapkan WFH, dan 9,7 persen memilih WFO.

Survei YouGov pada 2020,  yang melibatkan 1.964 responden, menghasilkan data yang menunjukkan sebanyak 26 persen pekerja menyukai dan akan tetap memilih WFH setelah pandemik. Sebanyak 38 persen memilih hybrid dan hanya 27 persen yang memilih WFO.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team