Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Cara Tepat Menentukan Harga Jual Karya Rajutanmu
Ilustrasi wanita lansia merajut dan menjual boneka rajutan buatan tangan di sebuah kios. (pexels.com/Hilal İlhan)
  • Artikel menjelaskan pentingnya menghitung seluruh biaya bahan, tenaga, dan operasional secara detail agar harga jual karya rajutan mencerminkan nilai kerja yang sebenarnya.
  • Ditekankan bahwa waktu pengerjaan harus dihitung sebagai ongkos produksi, serta margin keuntungan perlu ditetapkan realistis agar bisnis tetap sehat dan berkelanjutan.
  • Penulis menyoroti perlunya riset pasar tanpa mengorbankan nilai brand, sehingga produk rajutan bisa diposisikan sesuai kualitas dan keunikan yang dimiliki.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menentukan harga jual karya rajutan sering terasa lebih sulit daripada menyelesaikan pola yang rumit. Kamu sudah begadang, jari pegal, benang kusut, tetapi begitu harus menulis angka di etalase, muncul pertanyaan apakah kemahalan atau justru terlalu murah. Dilema ini wajar karena bisnis handmade memang menuntut kita menilai sesuatu yang prosesnya panjang dan penuh detail.

Padahal, harga yang tepat bukan hasil tebak-tebakan, melainkan gabungan dari perhitungan dan strategi. Supaya kamu gak lagi asal pasang harga dan akhirnya merasa rugi sendiri, berikut penjelasan lima cara tepat untuk menentukan harga jual karya rajutanmu.

1. Hitung biaya bahan dari yang besar sampai kecil

ilustrasi alat rajut (pexels.com/Surene Palvie)

Langkah pertama adalah mencatat semua bahan yang digunakan secara detail, bukan hanya benang utama. Hitung juga aksesori seperti kancing, resleting, ring tas, label brand, sampai lem atau benang jahit tambahan bila ada. Barang kecil sering terlihat sepele, padahal bila dijumlahkan bisa cukup signifikan dan diam-diam memakan margin.

Biasakan menulis biaya per produk dan bukan biaya belanja. Misalnya, satu gulung benang 100 gram, tetapi untuk membuat satu pouch hanya butuh 40 gram, berarti biaya benang yang masuk ke produk adalah 40 persen dari harga gulungnya. Dengan cara ini, kamu bisa menentukan harga secara adil dan menghindari kebiasaan menutup mata terhadap biaya yang sebenarnya.

2. Masukkan ongkos tenaga dan waktu sebagai komponen utama

ilustrasi perempuan merajut (pexels.com/Miriam Alonso)

Karya rajut jelas bukan barang instan, jadi waktu pengerjaan wajib dihitung sebagai ongkos produksi. Banyak perajin terjebak menjual terlalu murah karena menganggap waktu merajut sebagai “hobi”, padahal saat sudah dijual, itu berubah menjadi tenaga kerja. Apabila tidak memasukkan upah untuk diri sendiri, kamu sedang membangun bisnis yang bergantung pada kelelahan, dan itu tidak akan bertahan lama.

Caranya, tentukan upah per jam yang menurutmu layak, lalu kalikan dengan total waktu pengerjaan. Misalnya, upah kerjamu Rp15.000 per jam dan satu bucket hat membutuhkan 6 jam, berarti ongkos kerja saja sudah Rp90.000. Dari sini kamu bisa lebih percaya diri saat menetapkan harga, karena angka yang muncul bukan perasaan, melainkan hasil perhitungan yang masuk akal.

3. Tambahkan biaya operasional yang sering tak terlihat

ilustrasi konsep branding (pexels.com/Eva Bronzini)

Selain bahan dan tenaga, ada biaya operasional yang sering tidak disadari. Contohnya, listrik, kuota internet untuk promosi, transportasi untuk membeli bahan, ongkir ke ekspedisi, sampai biaya admin marketplace. Apabila kamu jualan online, biasanya ada juga biaya kemasan tambahan seperti bubble wrap, stiker fragile, dan kartu ucapan untuk meningkatkan pengalaman pelanggan.

Supaya praktis, kamu bisa memasukkan biaya operasional sebagai persentase dari total biaya bahan dan tenaga. Banyak bisnis kecil memakai kisaran 10–20 persen sebagai biaya operasional, tergantung kebutuhan. Dengan menambahkan komponen ini, bisnismu jadi lebih sehat karena semua biaya yang mengalir keluar sudah “diakui” sejak awal, bukan baru terasa saat uang menipis.

4. Tentukan margin keuntungan yang realistis dan bikin bisnis bertumbuh

ilustrasi pricelist (pexels.com/Tim Heckmann)

Keuntungan bukan hal yang memalukan, justru itu tanda bisnismu hidup. Setelah biaya bahan, tenaga, dan operasional terkumpul, kamu perlu menambahkan margin keuntungan sebagai ruang untuk berkembang. Besarnya margin bisa bervariasi, tetapi untuk produk handmade, kisaran 20–50 persen cukup umum tergantung kerumitan dan nilai eksklusif.

Produk sederhana seperti scrunchie rajut mungkin marginnya lebih kecil, sementara tas dengan pola rumit dan detail wajar marginnya lebih tinggi. Intinya, margin harus membuatmu tetap semangat produksi.

5. Cocokkan dengan pasar, tetapi tetap pegang nilai brand kamu

Ilustrasi kreasi rajutan berwarna-warni di kios pasar terbuka. (pexels.com/Heriberto Jahir Medina)

Riset harga kompetitor penting, tetapi jangan sampai membuatmu merendahkan kualitas diri sendiri. Lihat pasar sebagai referensi, seperti produk apa yang laris, rentang harga berapa yang umum, dan apa pembeda utama yang mereka tawarkan. Dari situ, kamu bisa menempatkan produkmu di posisi yang tepat, apakah mau bermain di segmen affordable, mid-range, atau premium.

Namun, ingat bahwa brand kamu punya cerita dan nilai yang bisa menaikkan harga. Jika kamu memakai benang premium, jahitan rapi, desain original, atau menyediakan warna dan ukuran kustom, semua itu punya nilai tambah yang layak dibayar. Produkmu tidak harus jadi yang termurah untuk bisa laku, tetapi hanya perlu terlihat jelas kenapa produkmu layak dihargai pada angka tertentu.

Menentukan harga jual karya rajutanmu gak bisa sembarangan. Dengan menghitung bahan secara detail, menghargai waktu, memasukkan biaya operasional, menambahkan margin yang sehat, serta memosisikan produk sesuai nilai brand, kamu bisa menetapkan harga yang adil untuk pembeli sekaligus untuk dirimu sendiri. Pada akhirnya, bisnis rajutan yang kuat adalah bisnis yang membuat perajinnya tetap waras, tetap semangat, dan bangga pada setiap helai karya yang dijual.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team