Ilustrasi kreasi rajutan berwarna-warni di kios pasar terbuka. (pexels.com/Heriberto Jahir Medina)
Riset harga kompetitor penting, tetapi jangan sampai membuatmu merendahkan kualitas diri sendiri. Lihat pasar sebagai referensi, seperti produk apa yang laris, rentang harga berapa yang umum, dan apa pembeda utama yang mereka tawarkan. Dari situ, kamu bisa menempatkan produkmu di posisi yang tepat, apakah mau bermain di segmen affordable, mid-range, atau premium.
Namun, ingat bahwa brand kamu punya cerita dan nilai yang bisa menaikkan harga. Jika kamu memakai benang premium, jahitan rapi, desain original, atau menyediakan warna dan ukuran kustom, semua itu punya nilai tambah yang layak dibayar. Produkmu tidak harus jadi yang termurah untuk bisa laku, tetapi hanya perlu terlihat jelas kenapa produkmu layak dihargai pada angka tertentu.
Menentukan harga jual karya rajutanmu gak bisa sembarangan. Dengan menghitung bahan secara detail, menghargai waktu, memasukkan biaya operasional, menambahkan margin yang sehat, serta memosisikan produk sesuai nilai brand, kamu bisa menetapkan harga yang adil untuk pembeli sekaligus untuk dirimu sendiri. Pada akhirnya, bisnis rajutan yang kuat adalah bisnis yang membuat perajinnya tetap waras, tetap semangat, dan bangga pada setiap helai karya yang dijual.