Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Minim Literasi, Asuransi Properti Masih Kurang Diminati
Ilustrasi Asuransi (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Tingkat literasi asuransi properti di Indonesia masih rendah, membuat masyarakat kurang sadar pentingnya melindungi aset dari risiko meski pengeluaran untuk hal lain lebih tinggi.
  • OJK tengah menyiapkan aturan baru terkait tarif premi guna memperkuat tata kelola dan keberlanjutan industri asuransi umum di tengah meningkatnya profil risiko.
  • Jasindo menekankan pentingnya edukasi agar masyarakat melihat asuransi sebagai investasi perlindungan jangka panjang, terutama menghadapi ancaman perubahan iklim yang makin ekstrem.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
29 April 2026

Pengamat asuransi Irvan Rahardjo menyoroti rendahnya literasi dan minat masyarakat terhadap asuransi properti di Indonesia. Ia menyebut faktor utama berasal dari kurangnya pemahaman dan menekankan perlunya edukasi serta dukungan kebijakan pemerintah.

kini

OJK tengah menyusun rancangan SEOJK tentang tarif premi asuransi harta benda dan kendaraan bermotor untuk memperkuat tata kelola industri. Jasindo mendukung langkah ini sambil terus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya asuransi properti di tengah risiko iklim yang semakin ekstrem.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Tingkat literasi dan edukasi masyarakat terhadap asuransi properti di Indonesia masih rendah, menyebabkan minat untuk memiliki perlindungan aset melalui asuransi properti tetap minim.
  • Who?
    Pengamat asuransi Irvan Rahardjo, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) yang turut menyoroti dan menanggapi kondisi tersebut.
  • Where?
    Kondisi ini dilaporkan terjadi di Indonesia, dengan pembahasan kebijakan dan tanggapan industri berlangsung di Jakarta.
  • When?
    Pernyataan dan pembahasan mengenai rendahnya literasi serta penyusunan regulasi disampaikan pada Kamis, 29 April 2026.
  • Why?
    Kurangnya pemahaman masyarakat tentang manfaat asuransi properti menjadi faktor utama, ditambah persepsi bahwa premi merupakan beban biaya bukan kebutuhan perlindungan.
  • How?
    Pemerintah didorong meningkatkan edukasi literasi keuangan, sementara OJK menyiapkan aturan tarif premi baru dan Jasindo memperkuat strategi edukasi serta tata kelola risiko.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak orang di Indonesia belum tahu tentang asuransi rumah, jadi mereka belum mau pakai. Pak Irvan bilang orang lebih banyak beli rokok daripada bayar asuransi. Pemerintah dan OJK mau bikin aturan baru supaya asuransi lebih baik. Ada juga Jasindo yang mau kasih tahu orang kalau asuransi itu penting buat jaga rumah dari bencana.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di tengah rendahnya literasi asuransi properti, langkah OJK menyiapkan regulasi baru dan optimisme Jasindo menunjukkan arah positif bagi industri. Upaya memperkuat tata kelola risiko serta fokus pada edukasi publik mencerminkan keseriusan berbagai pihak dalam membangun ekosistem perlindungan aset yang lebih sehat, berkelanjutan, dan adaptif terhadap tantangan iklim ekstrem.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Tingkat literasi dan edukasi masyarakat terkait asuransi properti di Indonesia dinilai masih rendah. Hal ini berdampak pada minimnya kesadaran masyarakat untuk melindungi aset properti mereka dari berbagai risiko.

Pengamat asuransi, Irvan Rahardjo mengatakan, rendahnya minat masyarakat terhadap asuransi properti bukan tanpa alasan. Menurutnya, faktor utama berasal dari kurangnya pemahaman.

"Ketidaktahuan itu sering disebut edukasi dan literasi. Terbukti pengeluaran masyarakat untuk rokok cukup tinggi yang harganya lebih tinggi dari premi asuransi," ujar Irvan dikutip Kamis (29/4/2026).

Dia juga menyoroti mahalnya harga rumah yang menjadi kendala tambahan. Namun, Irvan menilai solusi tetap bisa dihadirkan melalui kebijakan pemerintah.

"Pemerintah harus makin gencar soal edukasi dan literasi. Apalagi saat ini asuransi wajib seperti yang diatur dalam UU P2SK," kata Irvan.

1. Regulasi disiapkan, industri dorong penguatan tata kelola

Sekretaris Perusahaan Jasindo, Brellian Gema. (IDN Times/Larasati Rey)

Di tengah tantangan literasi tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyusun rancangan Surat Edaran OJK (SEOJK) tentang Tarif Premi Asuransi Harta Benda dan Kendaraan Bermotor.

PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) menilai kebijakan ini berpotensi memperkuat tata kelola risiko di industri asuransi umum. Corporate Secretary Jasindo, Brellian Gema menyebut, pihaknya optimistis regulator akan menghadirkan aturan yang tepat.

“Apabila penyesuaian ini dilakukan maka kami berharap dapat mencerminkan profil risiko yang aktual, mendorong praktik underwriting yang lebih prudent, serta menjaga kesehatan dan keberlanjutan industri asuransi umum,” ujar Brellian.

Dia menambahkan, penyesuaian tarif didorong oleh meningkatnya profil risiko yang berdampak pada potensi klaim.

“Penyesuaian tarif perlu dilihat secara menyeluruh. Dengan adanya penyesuaian ini, diharapkan perusahaan asuransi dapat lebih berkelanjutan dalam memberikan perlindungan,” kata Brellian.

2. Edukasi jadi kunci, asuransi bukan sekadar biaya

Kantor pusat PT Asuransi Jasa Indonesia (Asuransi Jasindo). (dok. Jasindo)

Di sisi lain, Jasindo menegaskan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar memahami manfaat asuransi properti. Perusahaan juga telah menyiapkan strategi adaptasi, mulai dari penguatan underwriting berbasis risiko hingga peningkatan kualitas analisis risiko.

Menurut Brellian, masih banyak masyarakat yang memandang asuransi sebagai beban biaya, bukan kebutuhan.

“Banyak pemilik properti yang masih menganggap asuransi sebagai biaya tambahan, padahal ini adalah bentuk investasi perlindungan. Dengan premi yang relatif terjangkau, mereka bisa menghindari risiko kehilangan aset akibat bencana,” ujarnya.

Padahal, asuransi properti memberikan perlindungan dari berbagai risiko seperti kebakaran, banjir, gempa bumi, hingga angin puting beliung. Terlebih, kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi membuat perlindungan ini menjadi semakin penting.

"Kami terus mengedukasi masyarakat bahwa asuransi bukan hanya tentang mengatasi kerugian setelah bencana terjadi, tetapi juga memberikan rasa aman sejak awal,” ujar Brellian.

3. Proteksi jangka panjang di tengah risiko iklim ekstrem

Kantor pusat PT Asuransi Jasa Indonesia (Asuransi Jasindo). (dok. Jasindo)

Sebagai penyedia layanan asuransi, Jasindo menawarkan berbagai produk yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan pemahaman yang tepat, pemilik properti dapat menjaga aset mereka dari potensi kerugian besar.

“Di tengah perubahan iklim yang semakin ekstrem, memiliki asuransi properti adalah langkah cerdas untuk menjaga kestabilan finansial dan melindungi investasi jangka panjang. Jangan tunggu sampai bencana datang, siapkan perlindungan sejak sekarang,” kata Brellian.

Editorial Team