Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Berapa Persen Gaji untuk Ditabung di Kondisi Ekonomi Terkini?
ilustrasi menabung (vecteezy.com/Sevak Aramyan)
  • Menabung 50 persen gaji kini sulit dilakukan karena biaya hidup meningkat, sehingga disarankan menyesuaikan nominal tabungan antara 10 hingga 20 persen sesuai kemampuan.
  • Mulailah menabung dari sisa uang setelah kebutuhan pokok terpenuhi dan gunakan nominal tetap agar lebih konsisten tanpa perlu menghitung persentase tiap bulan.
  • Dana darurat menjadi prioritas utama di kondisi ekonomi tidak stabil, sementara fleksibilitas jumlah tabungan penting agar kebiasaan menabung tetap berlanjut meski penghasilan berubah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dulu, ada fase di mana menabung 50 sampai 60 persen dari gaji masih terasa mungkin. Biaya hidup belum setinggi sekarang, jadi sisa uang di akhir bulan masih cukup besar untuk disimpan. Situasi itu bikin banyak orang terbiasa dengan standar menabung yang tinggi.

Sekarang kondisinya berubah cukup jauh karena harga kebutuhan terus naik sementara gaji tidak selalu ikut menyesuaikan. Tidak menabung saja sudah terasa pas-pasan, apalagi harus menyisihkan dalam jumlah besar seperti dulu. Lalu, apakah masih bisa kita menabung? Kemudian, berapa persen gaji untuk ditabung di kondisi ekonomi terkini? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

1. Target tinggi seperti 50 persen sekarang tidak selalu realistis

ilustrasi menabung (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)

Di masa lalu, menabung setengah gaji masih masuk akal untuk sebagian orang. Misalnya, gaji Rp5 juta masih bisa disimpan Rp2,5 juta karena biaya hidup belum terlalu mencekik. Sekarang, angka itu sulit dicapai untuk banyak orang. Biaya makan, tempat tinggal, dan transportasi sudah menyerap sebagian besar gaji.

Kalau dipaksakan, biasanya justru berujung pada kegagalan untuk konsisten menabung. Bulan pertama mungkin bisa, tapi bulan berikutnya langsung berhenti. Lebih realistis kalau kamu bisa menyesuaikan nominal uang yang ditabung dengan kondisi sekarang. Misalnya, mulai dari 10 sampai 20 persen dulu yang penting tetap ada alokasi, meski tidak sebesar dulu.

2. Mulai dari sisa uang, bukan angka tabungan yang ideal

ilustrasi sisa uang (unsplash.com/Jakub Żerdzicki)

Banyak orang langsung menentukan target tabungan tanpa melihat kondisi nyata belakangan ini. Akhirnya, uang habis sebelum akhir bulan. Cara ini sering bikin frustrasi karena uang terasa selalu kurang. Padahal, masalahnya ada pada perhitungan awal yang tidak realistis.

Coba mulai dari menghitung pengeluaran tetap. Misalnya kos Rp1,5 juta, makan Rp1,8 juta, transport Rp500 ribu. Dari gaji Rp5 juta, sisa sekitar Rp1,2 juta. Dari sini baru tentukan tabungan, misalnya Rp400 ribu sampai Rp600 ribu. Cara ini lebih aman karena sesuai kondisi ekonomi saat ini.

3. Gunakan nominal tetap biar lebih konsisten

ilustrasi menabung (unsplash.com/Lukasz Radziejewski)

Persentase sering terasa ribet karena harus dihitung terus. Apalagi kalau pengeluaran berubah tiap bulan. Lebih mudah pakai nominal tetap yang langsung dipisahkan saat gajian. Cara ini lebih simpel dan tidak bikin ragu buat kamu tabung.

Misalnya, langsung sisihkan Rp300 ribu atau Rp500 ribu di awal. Jangan tunggu sisa uang di akhir bulan. Kalau menunggu sisa, biasanya tidak akan ada yang tersisa karena buka e-commerce saja rasanya langsung ingin check out, stres dikit langsung self reward. Dengan cara ini, tabungan tetap jalan tanpa harus dipikirkan terus.

4. Prioritaskan dana darurat dulu

ilustrasi dana darurat (unsplash.com/ Alexander Mils)

Di kondisi ekonomi yang tidak stabil seperti belakangan ini, dana darurat jadi penting. Banyak kejadian tidak terduga yang bisa mengganggu keuangan. Tanpa dana cadangan, kamu bisa terpaksa berutang. Ini yang sering bikin kondisi makin berat.Tapi kalau hari-hari saja pas-pasan, apa masih mungkin memiliki dana darurat?

Jawabannya jelas masih bisa, guys! Kamu bisa mulai dari target kecil seperti Rp500 ribu dulu. Lalu naik ke Rp1 juta, lalu bertahap terus. Jangan lupa rutin lakukan 3 sampai 6 bulan pengeluaran. Misalnya, pengeluaran Rp3 juta, target akhirnya Rp9 juta sampai Rp18 juta. Tidak perlu cepat, tidak perlu langsung tercapai, yang penting konsisten.

5. Fleksibel itu lebih penting dari angka tabungan yang besar

ilustrasi menabung (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)

Kondisi keuangan tidak selalu sama setiap bulan. Kadang ada kebutuhan tambahan yang tidak bisa ditunda. Hal ini menjadikan jumlah persen gaji untuk ditabung di kondisi ekonomi terkini bisa saja berkurang. Gak perlu merasa bersalah atau terbawa pikiran sebab, namanya juga hidup. Semua dinamika keuangan yang terjadi termasuk hal yang normal, kok. Semua orang pasti pernah mengalaminya.

Misalnya, biasanya kamu rutin menabung Rp500 ribu, tapi bulan ini hanya bisa Rp200 ribu. Tidak masalah selama tetap ada uang untuk disisihkan. Saat kondisi sudah lebih longgar, jumlah uang bisa dinaikkan lagi atau kembali ke nominal awal. Cara ini lebih realistis untuk terus dijalankan dalam jangka panjang.

Menabung di zaman sekarang perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan yang ada. Tidak harus dalam jumlah yang besar, yang penting tetap berjalan. Konsistensi jadi kunci agar tabungan tetap terkumpul. Semoga meski jumlahnya tak begitu banyak, kita masih bisa menyisakan sedikit saja untuk ditabung.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team