Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rayakan Lebaran Tanpa Drama, Bijak Kelola THR dan Sikapi Godaan Promo 
ilustrasi flash sale (commons.wikimedia.org/Henning Schlottmann)
  • Menjelang Lebaran, promo belanja masif memicu perilaku konsumtif dan belanja impulsif akibat FOMO serta dorongan sosial untuk tampil baru saat hari raya.

  • Pemanfaatan fitur pemisahan rekening seperti Kantong di Bank Jago membantu mengatur anggaran THR agar pengeluaran tetap terkendali dan tidak berlebihan.

  • Membagi THR ke beberapa pos serta menerapkan strategi belanja seperti aturan 24 jam.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Menjelang Lebaran

Menjelang Lebaran, berbagai promo seperti flash sale dan cashback Ramadan bermunculan, mendorong masyarakat berbelanja impulsif terutama setelah THR cair.

setelah Lebaran

Jika pengeluaran tidak dikendalikan, arus kas dapat terganggu setelah Lebaran akibat belanja berlebihan saat menerima THR.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Menjelang Lebaran banyak promo dan diskon di ponsel, orang jadi ingin belanja terus. Banyak yang pakai uang THR buat beli barang yang belum tentu perlu. Supaya uangnya nggak habis, orang disuruh pisah-pisah uangnya, ada buat Lebaran, tabungan, dan bayar cicilan. Kalau sabar dan mikir dulu sebelum beli, uang bisa lebih aman dan hati senang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menjelang Lebaran, notifikasi promo seolah tak ada jeda. Mulai dari flash sale tengah malam, cashback spesial Ramadan, hingga diskon besar-besaran, semua berlomba menarik perhatian konsumen. Tanpa disadari, baru sebentar berselancar di aplikasi belanja, keranjang sudah penuh.

Masalahnya, tak sedikit masyarakat berbelanja bukan karena kebutuhan, melainkan karena terbawa suasana. Apalagi saat  Tunjangan Hari Raya (THR) baru cair, rasanya punya dana lebih yang sayang kalau tidak dibelanjakan. Jika tidak dikendalikan, pengeluaran bisa melebar dan menggerus arus kas setelah Lebaran.

Agar momen hari raya tetap meriah tanpa tekanan finansial, penting bagi kita memahami apa saja penyebab belanja impulsif  dan cara mengendalikannya. Rasa takut ketinggalan tren atau fear of missing out (FOMO) menjadi salah satu pemicu utama. 

Promo seperti flash sale, label “stok tinggal sedikit”, atau hitung mundur diskon sering membuat orang merasa harus segera membeli sebelum kesempatan itu hilang. Ditambah lagi dengan tawaran diskon besar dan cashback yang terlihat sangat menggiurkan, sehingga belanja terasa seperti kesempatan yang sayang untuk dilewatkan. 

Di sisi lain, ada juga dorongan sosial, berupa keinginan tampil lebih segar saat berkumpul bersama keluarga di hari raya, kerap membuat orang memaksakan belanja, seperti pakaian, aksesoris, atau gadget baru. Kombinasi berbagai faktor ini akhirnya membuat keputusan belanja jadi lebih emosional ketimbang rasional, dan sering kali terjadi secara impulsif.

1. Pentingnya memisahkan anggaran

Bank Jago (Dok. Bank Jago)

Untuk mengendalikannya, salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan adalah membiasakan diri memisahkan anggaran sejak awal. Cara ini sebenarnya bukan hal baru, karena orang-orang tua dulu terbiasa menyelipkan atau menyimpan uang di tempat-tempat tertentu yang jumlah dan lokasinya hanya mereka yang tahu. Prinsip yang sama sejatinya bisa diterapkan hari ini, misalnya dengan memanfaatkan fitur pemisahan rekening di aplikasi perbankan.

Fitur Kantong atau Pocket dari Bank Jago menjadi salah satu contoh bagaimana kebiasaan lama tersebut dihadirkan kembali dalam bentuk yang lebih praktis dan modern. Fitur yang dapat dipersonalisasi ini memudahkan pengguna membagi dana ke beberapa pos anggaran, seperti Kantong untuk kebutuhan Lebaran, tabungan, atau pengeluaran harian. Dengan begitu, batas anggaran tetap terjaga dan keputusan belanja bisa lebih terkendali.

2. Bikin skema pembagian supaya tak jor-joran

fitur Kantong Jago di aplikasi Gojek (dok. Bank Jago x GoPay)

Selain memisahkan anggaran untuk pengeluaran, Aplikasi Jago dan Jago Syariah juga memberi kesempatan pengguna untuk mengalokasikan THR untuk kepentingan masa depan yang lebih strategis. Misalnya, sebagian uang THR bisa disimpan di Deposito Jago atau Deposito Syariah, atau diinvestasikan dalam reksa dana dan saham melalui platform mitra dalam ekosistem digital, seperti di Bibit dan Stockbit.

Bagi yang masih bingung mengatur THR, salah satu cara yang cukup aman adalah dengan membaginya ke dalam beberapa pos agar keuangan tetap terkendali setelah Lebaran. Misalnya, 40 persen dialokasikan untuk kebutuhan Lebaran dan mudik, 30 persen untuk tabungan atau dana darurat, 20 persen untuk membayar kewajiban atau cicilan, dan 10 persen sisanya untuk self-reward. Skema sederhana ini membantu menjaga keseimbangan antara menikmati momen belanja musiman dan tetap menjaga kestabilan keuangan jangka menengah, sehingga Lebaran bisa terasa meriah tanpa harus menyesal setelahnya.

3. Tetapkan strategi belanja, tiga tips ini bisa dipraktikkan

Bank Jago (Dok. Bank Jago)

Supaya belanja tidak kebablasan, ada beberapa trik alternatif sederhana yang juga bisa dicoba. Pertama, pakai aturan 24 jam atau menunda dulu pembelian setidaknya sehari. Beri jeda waktu untuk mempertimbangkan ulang, apakah benar-benar butuh barang tersebut atau sebenarnya hanya godaan mata. Kedua, hindari belanja saat emosional. Lelah, stres, atau bosan sering kali bikin keputusan belanja jadi kurang rasional, dan biasanya berujung pada barang yang sebenarnya tidak diperlukan. Ketiga, bandingkan harga sebelum checkout. Jangan langsung tergoda di toko pertama, karena diskon besar tak selalu berarti hemat. Hemat yang sebenarnya itu beli sesuai kebutuhan dan anggaran, bukan cuma karena iming-iming potongan harga besar.

Pada akhirnya, Lebaran yang menyenangkan bukan soal banyaknya paket yang datang ke rumah, tapi kemampuan menikmati momen kebersamaan tanpa dihantui tagihan setelahnya. Dengan perencanaan yang baik dan sedikit disiplin, THR diharapkan tidak lagi sekadar “numpang lewat”, tapi benar-benar bisa memberi manfaat.

Editorial Team