Jakarta, IDN Times - Menjelang Lebaran, notifikasi promo seolah tak ada jeda. Mulai dari flash sale tengah malam, cashback spesial Ramadan, hingga diskon besar-besaran, semua berlomba menarik perhatian konsumen. Tanpa disadari, baru sebentar berselancar di aplikasi belanja, keranjang sudah penuh.
Masalahnya, tak sedikit masyarakat berbelanja bukan karena kebutuhan, melainkan karena terbawa suasana. Apalagi saat Tunjangan Hari Raya (THR) baru cair, rasanya punya dana lebih yang sayang kalau tidak dibelanjakan. Jika tidak dikendalikan, pengeluaran bisa melebar dan menggerus arus kas setelah Lebaran.
Agar momen hari raya tetap meriah tanpa tekanan finansial, penting bagi kita memahami apa saja penyebab belanja impulsif dan cara mengendalikannya. Rasa takut ketinggalan tren atau fear of missing out (FOMO) menjadi salah satu pemicu utama.
Promo seperti flash sale, label “stok tinggal sedikit”, atau hitung mundur diskon sering membuat orang merasa harus segera membeli sebelum kesempatan itu hilang. Ditambah lagi dengan tawaran diskon besar dan cashback yang terlihat sangat menggiurkan, sehingga belanja terasa seperti kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.
Di sisi lain, ada juga dorongan sosial, berupa keinginan tampil lebih segar saat berkumpul bersama keluarga di hari raya, kerap membuat orang memaksakan belanja, seperti pakaian, aksesoris, atau gadget baru. Kombinasi berbagai faktor ini akhirnya membuat keputusan belanja jadi lebih emosional ketimbang rasional, dan sering kali terjadi secara impulsif.