Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Saham AI Underrated yang Melejit di 2026, Layak Dibeli?
Ilustrasi AI (freepik.com)
  • Empat saham AI kurang dikenal—Applied Optoelectronics, Coherent Corp., Fabrinet, dan Nebius Group—menunjukkan lonjakan harga signifikan sepanjang 2026 berkat meningkatnya kebutuhan infrastruktur AI global.
  • Applied Optoelectronics melonjak 339 persen karena kontrak besar dari hyperscaler, sementara Coherent Corp. mencatat kenaikan 69 persen meski target analis masih bervariasi.
  • Fabrinet diuntungkan kemitraan dengan Nvidia untuk pusat data AI, sedangkan Nebius Group tumbuh pesat lewat pembangunan pusat data GPU dan dukungan kepemilikan saham oleh Nvidia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ledakan teknologi Artificial Intelligence dalam beberapa tahun terakhir memang didominasi oleh raksasa seperti Nvidia, Microsoft, Alphabet, Meta, dan Apple. Perusahaan-perusahaan ini menjadi motor utama perkembangan AI global, baik dari sisi inovasi maupun investasi besar-besaran.

Namun, bukan berarti hanya pemain besar yang menikmati dampaknya. Di balik sorotan tersebut, ada sejumlah perusahaan yang kurang dikenal yang justru mencatatkan pertumbuhan harga saham yang sangat signifikan sepanjang 2026. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya kebutuhan infrastruktur AI, mulai dari pusat data hingga komponen jaringan berkecepatan tinggi.

Faktanya, beberapa saham “underrated” ini bahkan mampu mengungguli performa perusahaan besar dalam jangka pendek. Berikut empat saham AI yang sedang naik daun dan patut masuk radar investor.

1. Applied Optoelectronics (AAOI)

Ilustrasi pasar saham (freepik.com)

  • Harga saham: 153,19 dolar

  • Kenaikan YTD: 339 persen

Perusahaan ini bergerak di bidang produksi transceiver optik berkecepatan tinggi, komponen penting untuk menghubungkan server AI dan perangkat jaringan.

Kenaikan sahamnya dipicu oleh keberhasilan mendapatkan kontrak besar dari beberapa pelanggan skala besar (hyperscaler). Hal ini menunjukkan bahwa belanja infrastruktur AI terus meningkat dan mengalir ke perusahaan seperti Applied Optoelectronics.

Meski prospeknya menjanjikan, sebagian pasar masih meragukan keberlanjutan pertumbuhannya.

2. Coherent Corp. (COHR)

Ilustrasi pasar saham (freepik.com)

  • Harga saham: 307,93 dolar

  • Kenaikan YTD: 69 persen

Perusahaan ini memproduksi komponen optik dan transceiver data berkecepatan tinggi yang mendukung kebutuhan transfer data dalam sistem AI.

Analis memberikan rating “moderate buy”, namun target harga sahamnya cukup bervariasi. Rata-rata target justru berada di bawah harga saat ini, menandakan adanya ketidakpastian yang perlu diperhatikan investor.

3. Fabrinet (FN)

Ilustrasi pasar saham (freepik.com)

  • Harga saham: 689,89 dolar

  • Kenaikan YTD: berkecepatan persen

Fabrinet dikenal sebagai mitra manufaktur utama bagi Nvidia, yang tengah agresif memperluas ekosistem AI-nya.

Kemitraan ini menjadi pendorong utama peningkatan permintaan terhadap layanan Fabrinet, terutama untuk kebutuhan pusat data berbasis AI. Sejumlah analis bahkan menaikkan target harga sahamnya karena prospek pertumbuhan yang kuat.

4. Nebius Group (NBIS)

Ilustrasi investasi (freepik.com)

  • Harga saham: 154,56 dolar

  • Kenaikan YTD: 85 persen

Nebius fokus membangun pusat data AI skala besar berbasis GPU. Perusahaan ini tidak hanya menarik minat startup AI, tetapi juga pengguna individu.

Menariknya, Nvidia juga memiliki kepemilikan saham di Nebius, yang menjadi sinyal positif terhadap prospek pertumbuhan jangka pendek perusahaan ini.

Meskipun saham AI biasanya identik dengan perusahaan besar, ada banyak pemain kecil yang menawarkan potensi pertumbuhan tinggi. Namun, seperti investasi lainnya, penting untuk tetap mempertimbangkan risiko dan melakukan riset sebelum membeli saham.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team