ilustrasi investasi (magnific.com/drobotdean)
Sinyal beli dapat digunakan oleh berbagai tipe pelaku pasar. Mulai dari trader jangka pendek hingga investor jangka panjang. Investor kontrarian, misalnya, dapat melihat penurunan harga tajam sebagai peluang beli. Kondisi tersebut dianggap sebagai reaksi pasar yang berlebihan.
Sementara itu, investor nilai melihat harga yang berada di bawah nilai aset bersih sebagai sinyal beli. Pendekatan ini berfokus pada perbandingan antara harga pasar dan nilai intrinsik.
Di sisi lain, sistem perdagangan otomatis dapat menghasilkan sinyal beli dan jual secara langsung. Sistem ini bekerja berdasarkan aturan yang telah ditentukan sebelumnya.
Beberapa sinyal beli yang umum digunakan berasal dari pola grafik, indikator teknikal, dan nilai intrinsik. Pada pola grafik, sinyal beli muncul ketika harga menembus level tertentu. Contohnya adalah pola segitiga naik yang memberikan sinyal saat harga menembus resistance.
Pada indikator teknikal, sinyal beli muncul saat kondisi tertentu terpenuhi. RSI, misalnya, dapat memberikan sinyal beli ketika berada pada kondisi jenuh jual di level 30.
Sementara pada pendekatan nilai intrinsik, investor menghitung nilai wajar perusahaan. Metode yang digunakan antara lain discounted cash flow atau nilai aset bersih. Jika harga pasar berada jauh di bawah nilai tersebut, kondisi ini sering dianggap sebagai sinyal beli. Namun, waktu masuk tetap dapat disesuaikan dengan analisis tambahan.