Aku berjalan
bersama mimpi yang tak pernah mau diam,
ia terus berteriak di kepalaku,
mengetuk harapan yang nyaris redup.
Katanya,
“Jangan berhenti sekarang,
meski jalanmu sulit,
dan dunia menutup pintu satu per satu.”
Aku pernah ingin menyerah,
meninggalkannya di sudut ruang,
bersama ragu yang terus tumbuh seiring waktu,
tapi ia selalu kembali padaku—
lebih kuat, lebih hidup.
Mimpiku begitu keras kepala,
ia tak memedulikan aku
yang telah jatuh berulang kali,
ia hanya tahu satu hal:
aku harus sampai.
Dan aku—
manusia yang sering rapuh—
akhirnya mengerti,
belajar menjadi
sekeras mimpi itu sendiri.
![[PUISI] Aku dan Mimpiku yang Keras Kepala](https://image.idntimes.com/post/20260423/pexels-milkovic-13359398_5f00738f-60a9-45c0-8e50-11a312b0b31a.jpg)