Aku temukan damai di rumah duka
Di wangi bunga, di cahaya lilin yang redup menyala
Di sana, kau masih terasa ada
Di antara bisik doa yang lirih melata
Tapi duka tak selalu bertanda batu
Kadang ia datang tanpa isyarat waktu
Kehilangan bukan hanya tentang yang mati
Tapi juga tentang yang hidup namun pergi
Hari-hari mengajakku mengenal perpisahan
Bukan hanya dengan mereka yang diam dalam ketiadaan
Ada yang masih bernapas namun terasa hilang
Ada yang tetap ada, tapi tak lagi pulang
Aku yang mencintai duka
Namun perlahan belajar melepasnya
Sebab rumah duka bukanlah tempatku selamanya
Hidup masih menunggu, dan aku harus melangkah
![[PUISI] Aku yang Mencintai Duka](https://image.idntimes.com/post/20250325/pexels-photo-6841614-e2f994c07b97d0d6086360fd723017e9.jpeg)