Kukira, gelapnya semestalah bencana
Sebab, kaki goyah menjejak buana
Dan mata tak mampu temukan jalan
Hingga tersesat di keheningan
Namun, diam pun menguarkan sesak
Takut akan teriakan tanpa gema
Serta petang yang tak jua terbenam
Seolah fajar enggan mengucap sapa
Lalu... ke manakah ku harus berlari
Saat pelita masih betah bersembunyi?
Tenggelam aku dalam bisikan ratap
Tanpa uluran iba, atau dekap terhangat
Maka kuputuskan berhenti memburu
Biarlah gulita menjadi pentas termegah
Barangkali akulah pelita ternyaring
Di antara duka yang tak henti merekah
