Cukup-
Satu kata yang terucap untuk diriku,
kenapa kamu terus terpikirkan.
Bukan aksara tetapi ada.
Aksara ini jauh dari kata biasa,
metafora sederhana di bentala.
Sunya ini seperti kalbu dikara,
diluar diam, namun iswara bergejolak di dalam.
Aku bukan pujangga yang hebat,
hanya memberi naya lembayung.
Untuk diriku, si kara seni,
gulanamu tak kan sia-sia.
![[Puisi] Di Luar Diam, di Dalam Bergejolak](https://image.idntimes.com/post/20260301/1000010215_e7dc5ef8-349f-494e-b632-49a682108855.jpg)