Maghrib hampir lewat seperempat jam
Kaki masih betah bersila sambil menikmati hidangan
Di bawah atap wisma yang masih asing baginya
Sebab hanya setahun sekali dikunjunginya
“Ayo segera pulang”
Cemas pun berkelahi dengan perasaannya
Hingga akhirnya terhenti di rumah Tuhan
Dekat sawah dan jalan
Siapa sangka
Terdengar suara gemericik air terdengar dari tempat wudhu pria
Ternyata ia sosok imam yang dirindu suaranya
Disusul sang nyonya di belakangnya
“Allahu Akbar”
Getarkan rungu serta kalbu sang nona
Hingga dibuatnya air mata menetes tak terkira
Sebab siapa sangka ia akan jadi makmumnya?
Setelah merindu dua windu lamanya
Terima kasih, Tuan
Kun fayakun-Mu nyata adanya
Hanya saja kami hamba pembangkang
Tak sabar menanti ucap-Mu “Iya sekarang”
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Dua Windu Merindu Suaramu, Tuan
![[PUISI] Dua Windu Merindu Suaramu, Tuan](https://image.idntimes.com/post/20260512/orang-shalat_9fb0d9fb-eac8-4085-b12d-4ce709f768f2.jpg)
Ilustrasi orang sedang shalat (unsplash.com/afiq fatah)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorKen Ameera
Follow Us