Gadis itu tertunduk di pojok kafe
Meninggalkan secangkir matcha yang kian dingin
Pundaknya lunglai
Waktunya kian terabai
Keinginan-keinginan kian menggunung
Sebuah draf lengkap di laptopnya menggantung
Padahal, itu kunci harapan yang cepat rampung
Tapi sepertinya ia kurang beruntung
Doa-doa sudah dirapalkan berulang kali
Harapan orang tua bertanya seiring berjalannya hari
Namun, nyatanya ia tak punya kendali
Hidupnya seperti semilir angin yang mampir tak berarti
![[PUISI] Ingin dan Semilir Angin](https://image.idntimes.com/post/20260206/martoli-03-laptop-7956356_1920_e1f06d34-05b5-4e5b-b229-2138b3f94af0.jpg)