Butir-butir waktu jatuh tanpa suara,
Menyusun gurun di antara jari.
Kata-kata lama tersimpan di dasar kaca,
Menjadi abu yang tak lagi terbaca.
Ia tersenyum, memecah waktu menjadi pecahan
Yang mengalir ke sela-sela tak terlihat.
Aku mencoba menyusun kembali,
Tapi pasir selalu lebih cepat menghambur.
Di sela patahnya jam, terbuka ruang:
Bayangan masa depan tak lagi terpaku.
Aku belajar dari hembusan gurun,
Bahwa kehilangan bisa jadi awal yang baru.
